20 December, 2019

Sebagai eksportir kopi, PT Asal Jaya harus menjaga pasokan. Saat ini pasokan sering menjadi masalah, sehingga permintaan pasar luar negeri sering tidak bisa dipenuhi. Haryanto, Dirut PT Asal Jaya menyatakan hal ini.

Asal Jaya selama ini sudah membina petani kopi bekerjasama dengan SCOPI (Sustainable Coffe Platform Indonesia) di Malang. Dengan cara ini produktivitas petani robusta meningkat dari 1 ton/ha menjadi 1,5-2 ton/ha.

“Pembinaan menghasilkan peningkatan produktivitas. Kalau semua daerah penghasil kopi di Indonesia bisa seperti ini maka ada peningkatan produktivitas 2 kali lipat. Maka target ekspor meningkat 3 kali lipat bisa dicapai,” katanya.

Kemarau panjang yang terjadi pada tahun lalu benar-benar menganggu pasokan, demikian juga perubahan iklim. Salah satu CSR Asal Jaya adalah memberikan ternak pada petani yang kotorannya dipergunakan untuk memperbaiki tanah, bibit dan green house untuk penjemuran.

Saat ini permintaan pasar yang besar adalah kopi robusta. Mesir saat ini minta kopi jenis ini dan sering tidak bisa dipenuhi. Orang Mesir setelah mengenal kopi robusta sekarang minum kopi 5 hari sekali.

Dari sisi harga memang kopi robusta lebih rendah dari arabika. Tetapi karena volume ekspornya besar devisa yang dihasilkan besar juga. Sedang arabika meskipun harganya tinggi tetapi permintaan tidak besar.

Pada acara Hari Perkebunan yang lalu Dirjen Perkebunan, Kasdi Subagyono melepas ekspor PT Asal Jaya yaitu kopi dan cengkeh sebesar 449,6 ton (total 24 container) dengan total nilai ekspor US$ 1.006.712 atau sekitar Rp 14,09 milyar. Kopi didapatkan dari Poktan binaan di Kabupaten Malang, sedangkan cengkeh dari poktan di daerah Ambon, Maluku.

Ekspor kopi sebesar 382,8 ton (20 container) dengan nilai ekspor US$ 646.252 (Rp 9,05 milyar) dan Negara tujuan Mesir, Inggris, Italy, Jepang. Untuk cengkeh sebesar 66,8 ton (4 container) dengan Nilai ekspor US$ 360.460 (Rp 5,05 milyar) dan Negara tujuan Pakistan dan India.

(Visited 62 times, 1 visits today)