Petrokimia Gresik
8 September, 2016
Bagikan Berita

Karateristik tebu sangat berbeda dengan padi, sehingga petani tebu tidak bisa disamakan dengan petani padi.

“Ada pejabat yang mengatakan petani tebu seharusnya bisa seperti petani padi, tidak perlu mengambil margin tinggi-tinggi. Pernyataan pejabat ini sama sekali tidak tepat,” kata Soemitro Samadikoen, Ketua Umum DPN Asosiasi Petani Tebu Rakyat Indonesia kepada perkebunannews.

Panen padi petani bisa langsung dibawa pulang, sedang petani tebu harus membawa tebunya ke pabrik. Setelah jadi gula petani membawa bagiannya 10% saja itu sudah terlalu banyak.

“Apalagi bila semua gula bagian petani dibawa pulang. Bagaimana cara menjualnya. Apa dijual eceran pada tetangga. Pasti gula itu tidak bisa diserap pasar,” katanya.

Jawa Timur yang surplus gulanya besar akan menjadi masalah kalau petani harus membawa gulanya ke rumah. Karena itu petani tebu memerlukan pedagang besar untuk menampung gula yang dihasilkan.

Dari total produksi gula nasional 2,5 juta ton, produksi gula milik petani mencapai 1,7 juta ton. Kalau petani harus menjual sendiri kemana menjualnya. Perlu pedagang besar yang mampu menyimpan dan menjual jumlah sebesar itu. Petani sendiri tidak akan mampu. Karena itu bisnis gula tidak bisa disamakan dengan bisnis beras. Pada bisnis beras petani bisa langsung jual ke penggilingan, kemudian penggilingan jual ke pasar induk, satu dua minggu bisa habis. Gula tidak seperti itu.

Produksi gula yang dihasilkan selama 4-5 bulan digunakan untuk kebutuhan selama satu tahun. Karena itu perlu pedagang yang mempunyai kemampuan finansial besar sehingga mampu menyimpan gula dalam jumlah besar kemudian melepaskannya setiap bulan sesuai keperluan.

“Saya juga selain petani tebu juga petani padi. Gabah yang saya jual sekarang hasil panen yang lalu sedang panen sekarang saya simpan. Pada tebu hal ini tidak bisa dilakukan,” katanya.

Baca Juga  Pertanian 4.0, Eranya Petani Milenial

Bagi petani tidak masalah siapa pengusaha. “Kalau ada pengusaha kecil tapi sanggup menampung gula silakan. Jaman dulu kondisi ini tidak terjadi karena semua gula dibeli Bulog. Kalau menganggap sistim perdagangan gula yang harus ditampung pengusaha besar ini salah ya kembalikan saja supaya Bulog yang menampung,” katanya. S

(Visited 241 times, 1 visits today)