5 July, 2020

Mungkinkah petani memiliki pabrik kelapa sawit sendiri ? Menurut Posma Sinurat, konsultan PKS PT Cahaya Wiguna Sakti, pada Webinar Mengoptimalkan Potensi Petani Kelapa Sawit yang diselenggarakan Media Perkebunan.id, sangat mungkin. Tetapi ada tantangan yang harus diatasi.

Pabrik Kelapa Sawit milik petani adalah pabrik yang dimiliki sekelompok petani dan dioperasikan oleh petani atau perwakilannya yang mana sumber bahan bakunya dari kebun milik sendiri. Selain itu pabrik itu sebaiknya menggunakan teknologi Green Mill ( Pabrik Hijau).

Green Mill adalah pabrik kelapa sawit yang menggunakan ZLD system dalam pengolahan limbah cairnya serta menggunakan SPEFB sebagai bahan bakar brolier, sehingga tidak ada pembuangan limbah padat yaitu tankos.

ZLD (Zero Liquid Discharge) system adalah mengolah limbah cair dalam satu system sehingga outputnya adalah air jernih dan solid. Air jernih dapat di recyle ke WTP, diolah dan digunakan kembali ke pabrik. Solid dapat digunakan sebagai dijual pakan ternak atau digunakan sebagai pupuk.

SPEFB adalah tandan kosong (Empty Fruit Buch) yang sudah dicincang (shredded) dan dipress (pressed) sehingga layak menjadi bahan bakar broiler. Broiler dirancang khusus agar bisa menggunakan bahan bakar SPEFB.

Keuntungannya adalah tidak perlu kerepotan besar menangani atau membuang tankos. Tankos meskipun sering dijadikan pupuk tetapi petani sering enggan mengambil karena mahalnya biaya transportasi. Tankos sering jadi masalah besar di pabrik karena biaya tinggi.

Cangkang yang seharusnya menjadi bahan bakar broiler dijual dan hasilnya cukup untuk membayar gaji karyawan pabrik dari level tertinggi sampai terbawah. Saat ini harga cangkang naik terus karena tingginya permintaan dari Jepang.

Keuntungan lain menggunakan green mill adalah tidak menggunakan kolam limbah sehingga lahannya dapat digunakan menanam sawit; lingkungan aman karena tidak ada limbah yang keluar dari pabrik; tidak ada pencemaran sungai, masyarakat sekitar pabrik merasa aman dan nyaman sehingga akan bebas gangguan; tidak perlu gunakan land aplikasi yang sering menjadi masalah lingkungan kalau hujan; air jernih sehingga dapat digunakan kembali, penggunaanya hemat; tidak ada bau busuk dari limbah yang dapat menganggu kesehatan; staf pabrik dapat fokus pada pengolahan TBS jadi CPO yang efisien.

Dengan asumsi produksi TBS 20 ton/ha/tahun maka kalau kelompok tani luas kebun 1.500 ha, olah TBS 100 ton/hari maka PKS kapasitas 5 ton/jam; kebun 3.000 ha, olah TBS 200 ton/hari, PKS kapasitas 10 ton/jam dan seterusnya. Dengan perhitungan teknis ekonomis maka green mill ini layak dibangun.

Tantangannya untuk membangun pabrik harus mencari sumber pendanaan. Perlu ada sumber pendanaan dari pemerintah atau lembaga keuangan kalau petani yang akan membangun.

Sedang kebun petani harus paham dengan pengelolaan kebun yang produktif meliputi panen (kriteria panen) untuk rendemen tinggi; perawatan untuk meningkatkan produktivitas/ha dan pemupukan untuk perbaikan rendemen dan produktivitas. Perlu bantuan tenaga penyuluh yang lebih efektif dan merata kepada petani, secara khusus petani mandiri.

(Visited 217 times, 1 visits today)