20 January, 2020

Dewan Karet Indonesia saat ini begitu ngotot mengirim surat ke berbagai lembaga untuk meningkatkatkan penggunaan karet alam. Tujuannya hanya satu yaitu membela kepentingan petani karet. Aziz Pane, Ketua Dewan Karet Indonesia menyatakan hal ini seusai FGD pemanfaatan karet alam untuk bahan bakar nabati.

“Kalau dibiarkan begitu saja maka petani tidak mau menanam karet lagi. Mereka akan mengganti dengan tanaman lain. Sementara disisi lain Vietnam, Laos, Kamboja malah terus memperluas lahan karet. Akibatnya suatu saat nanti Indonesia jadi importir karet alam,” kata Aziz.

Aziz sangat mendukung hasil penelitian ITB yang bisa mengubah karet alam jadi bahan bakar nabati. Sekarang masih dalam proses penelitian untuk bisa aplikasi di lapangan. Kalau sudah aplikasi maka 50% produksi karet bisa digunakan untuk BBN. Setelah kelapa sawit jadi biodiesel, maka Aziz minta karet juga diberi kesempatan menjadi BBN dengan mekanisme yang sama sehingga layak secara ekonomis.

Demikian juga untuk pembanggunan ibukota baru, Dewan Karet Indonesia minta pada Bappenas agar semua komponen karet yang digunakan untuk infratruktur harus menggunakan karet produksi petani Indonesia. Bantalan tahan gempa, dock fender pelabuhan, aspal karet semuanya harus dari perusahaan nasional yang membeli karet dari industri crumb rubber dalam negeri.

“Kita harus meyakinkan petani bahwa upaya mereka tetap mempertahankan karet merupakan upaya yang benar. Petani harus dibela” katanya.

Kondisi petani saat ini selain harga rendah sehingga pohonya rawan diganti dengan tanaman lain, adalah pohon yang sudah tua dan outbreak penyakit pestalotiopsis . Penyakit ini menyebar salah satunya karena petani sudah tidak mampu lagi merawat karetnya akibat harga rendah.

Peremajaan karet rakyat terhambat karena pemerintah tidak punya dana. “Saya sudah dapat investor dari Eropa. Mereka akan membiayai seluruh proses peremajaan asal kayu karetnya buat mereka semua. Kayu itu dibuat jadi bubuk. ” katanya.