Flyer WHO yang berkaitan dengan Covid (gambar diatas) menyebutkan jangan mengkonsumsi lemak jenuh (saturated fats) yang terkandung dalam minyak sawit dan minyak kelapa, daging, keju, mentega, krim tetapi konsumsi lemak tidak jenuh (unsaturated fats) yang terkandung dalam alpukat, ikan, kacang-kacangan, kedelai, kanola, bunga matahari dan jagung.

Menurut Sri Raharjo, Guru Besar Departemen Teknologi Pangan dan Hasil Pertanian, Fakultas Teknologi Pertanian, UGM, konsep batasi mengkonsumi minyak sawit dan minyak kelapa sudah kencang digaungkan WHO sejak 1 Januari 2014 untuk mengurangi serangan jantung. Januari 2015 menjadi gerakan mengganti minyak sawit dan kelapa dengan minyak lain yang dianggap lebih sehat.

Celakanya hal ini juga mempengaruhi praktisi kesehatan di dalam negeri sehingga Kementerian Kesehatan pernah mengeluarkan flyer ganti minyak sawit/minyak kelapa dengan zaitun, kedelai, jagung, lobak, sunflower.

“Mereka sangat konsisten percaya bahwa minyak sawit itu lemak jenuh jahat. Keyakinan ini sudah sangat menginfeksi. Sulit sekali merubah persepsi bahwa sebenarnya hal ini tidak benar,” katanya.

Majalah TIME tahun 1984 menyebut bahwa kolesterol itu jahat. Tetapi 30 tahun kemudian direvisi dengan memuat konsumsi mentega dan pandangan ilmuwan bahwa lemak jenuh itu jahat adalah salah. Jadi informasi lemak jenuh itu jahat tidak benar.

Dietary guidelines for American 2015-2020 juga memasukan bahwa pola hidup yang sehat termasuk mengkonsumsi minyak. Study lanjutan yang dimuat di media masa juga menyebutkan bahwa konsumsi lemak jenuh asal hewan tidak seburuk yang dikira selama ini. Study lainnya menyebutkan konsumsi lemak jenuh ternyata bisa mengurangi serangan jantung. Lemak jenuh di negara tropis dihasilkan dari minyak sawit dan kelapa, sedang di negara sub tropis dihasilkan dari daging dan susu.

“Koreksi pada keyakinan lama yang seolah-olah benar ini tidak mudah dilakukan. Minyak sawit dan kelapa sudah dipersepsikan tidak sehat. Padahal lemak jenuh yang harus dihindari adalah bentuk padat. Minyak sawit dan kelapa punya peluang sebagai healty oil. Kita mengkonsumsi lemak dalam bentuk makanan. Setiap makanan mengandung unsur lemak jenuh dan tidak jenuh. Keduanya diperlukan tubuh supaya tetap sehat,” katanya.

Tungkot Sipayung, Direktur Eksekutif PASPI (Palm Oil Agribusiness Strategic and Policy Institute) menyatakan dari flyer itu WHO sudah salah langkah. Organisasi kesehatan dunia ini sudah membuat kesimpulan padahal belum ada bukti empiris.

Ratnawati Nurkhoiry dari PPKS (Pusat Penelitian Kelapa Sawit) menyatakan setelah sebelumnya kelapa sawit diserang dari aspek lingkungan lewat sustainability, sekarang dengan adanya pandemi Covid-19 kembali diserang lewat isu kesehatan. Dulu kelapa sawit diserang lewat isu kesehatan sebagai sumber lemak jenuh yang tidak sehat. Stakeholder kelapa sawit tidak boleh diam saja.

Mukti Sarjono, Direktur Eksekutif GAPKI menyatakan pihaknya sudah membahas flyer WHO ini dengan pemerintah. Kementerian Luar Negeri sudah mengeluarkan nota kepada WHO. “Pemerintah cepat tanggap menghadapi isu ini. Dewan Minyak Sawit Indonesia juga sudah melayangkan surat ke WHO,” katanya.

(Visited 33 times, 1 visits today)