11 July, 2020

Jakarta, Media Perkebunan.id

Setelah turun pada masa pandemi Covid-19 kemarin, permintaan ekspor arang briket kelapa untuk sisha saat ini sudah normal seperti sebelum pandemi. Masalah yang dihadapi adalah kekurangan bahan baku. Yogi Abimanyu, Ketua Umum Perpaki (Perkumpulan Pengusaha Arang Kelapa Indonesia) menyatakan hal ini pada MediaPerkebunan.id.

Penyebab kurangnya bahan baku adalah kekeringan tahun lalu menyebabkan produksi kelapa turun. Selain itu turunnya harga kopra membuat proses pembuatan kopra oleh petani berkurang sehingga pasokan tempurung kelapa untuk arang menurun.

Ekspor kelapa segar juga meningkat. Produksi kelapa Vietnam dan Thailand turun, sehingga pabrik pengolahan kelapa Thailand dan China mengalihkan pembelian kelapa segar dari Indonesia. Petani lebih suka menjual kelapa utuh untuk ekspor daripada mengolah jadi kopra.

“Situasi ini memang dilematis. Perpaki tidak bisa mengusulkan supaya melarang ekspor kelapa segar karena ini bukan solusi dan tidak adil bagi petani. Masalahnya adalah ketidakseimbangan antara produksi kelapa dengan serapan industri di dalam negeri sehingga kelapa segar utuh mudah keluar,” katanya.

Kelapa yang diusahakan mayoritas penduduk Indonesia dengan luas 3,3 juta ha , sayangnya selama ini hanya bertumpu sebagai penghasil kopra saja. Ketika harganya rendah sedang industri di luar negeri kekurangan bahan baku maka kelapa segar mudah sekali tersedot ke luar negeri dan industri dalam negeri sulit bersaing.

Untuk mengatasi masalah ini maka semua pemangku kepentingan harus duduk bersama mencari solusi. Industri hilir kelapa di dalam negeri harus ditumbuhkan sehingga bahan baku lebih banyak diolah disini dan nilai tambah lebih banyak dinikmati.
m
Pasar kelapa olahan bukan hanya untuk ekspor tetapi jangan dilupakan pasar dalam negeri juga sangat besar. Pasar snack di Indonesia sangat besar., pisang, singkong, apel sudah diolah jadi kripik dan banyak dikonsumsi masyarakat.

Kelapa bisa diolah jadi snack juga yaitu keripik kelapa dan permen kelapa. Thailand banyak menghasilkan keripik kelapa, rasanya enak dan harganya cukup mahal. Permen kelapa dari China juga seperti itu.

Teknologi pengolahan kelapa jadi keripik dan permen relatif sederhana dan bisa dilakukan UMKM. Kalau Indonesia bisa melakukan ini maka nilai tambah yang didapat petani besar sekali. Abimanyu kuatir nanti Indonesia akan mengimpor keripik kelapa Thailand dan permen kelapa China.

“Jangan sampai kejadian di rumput laut terjadi di kelapa. Kita produsen rumput laut terbesar, tetapi snack rumput laut yang ada di pasar semuanya impor dari Thailand, Korea dan China. Saya kuatir kita sibuk mengekspor kelapa bulat tetapi nanti pasar dipenuhi impor kelapa olahan,” katanya.

Kalau semua pemangku kepentingan sudah duduk bersama dan sepakat membangun lebih banyak industri olahan di dalam negeri maka posisinya menang-menang bagi semua. Tidak ada pihak yang dirugikan, nilai tambah lebih banya dinikmati disini dan pasar dalam negeri serta ekspor dikuasai. Tidak boleh lagi ada kebijakan yang menguntungkan satu pihak tetapi merugikan pihak lain.

(Visited 452 times, 2 visits today)