22 July, 2020

Minyak sawit dan produk-produk turunannya yang dihasikan Indonesia 70% untuk pasar ekspor. Dengan volume ekspor yang sangat besar (tahun 2019 27,9 juta ton) maka devisa yang dihasilkan juga sangat besar (2019 USD 16,53 milar) .

Tidak ada produk lain di Indonesia yang memberikan devisa sebesar itu dengan komponen impor yang relatif nol. Beda dengan industri lain yang mengimpor bahan baku baru produknya diekspor. Joko Supriyono, Ketua Umum GAPKI (Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia) menyatakan hal ini dalam webinar Forum Jurnalis Sawit.

Saat ini Indonesia dianggap perlu dan sedang melakukan penguatan pasar domestik melalui program B30 dan D100. “Penguatan pasar domestik ini bagus-bagus saja. Tetapi tujuan utamanya adalah memperkuat posisi tawar di pasar ekspor. Pasar domestik makin lama harus semakin kuat tanpa mengabaikan pasar internasional. Kalau minyak sawit ingin dipertahankan sebagai andalan penghasil devisa maka perdagangan internasional tetap harus jadi prioritas,” katanya.

Perdagangan harus menjadi panglima kalau tetap ingin mempertahankan sawit sebagai sumber devisa. Tujuannya adalah menghapuskan seluruh hambatan perdagangan. Pemerintah harus memperkuat kerjasama G to G dengan negara tujuan eskpor seperti India, China dan lain-lain. Pengusaha sendiri secara B to B sudah pasti punya kiat untuk memperkuat pemasaran.

Kehadiran pemerintah perlu diperkuat untuk meminimalisir hambatan perdagangan. Untuk pasar India misalnya horison perdagangan harus diperkuat sehingga sawit tidak selalu dijadikan pintu masuk alasan hambatan perdagangan.

Dengan UE Indonesia sudah bertahun-tahun merundingkan CEPA (Comprehensive Economic Patnership Agreement) dan tidak selesai juga. Pembahasan perdagangan dan sustainability sawit tidak pernah tuntas karena Eropa memang tidak memberikan tempat untuk ini.

“Indonesia sudah benar dengan kebijakan no palm oil no CEPA. Konsistensi ini harus benar-benar dipertahankan. CEPA Indonesia Uni Eropa tidak boleh ditandatangani kalau tidak menguntungkan sawit,” katanya.

Derom Bangun, Ketua Umum Dewan Minyak Sawit Indonesia dalam kesempatan yang sama, menyatakan pandemi Covid membuat pasar minyak sawit dunia menurun. Pasar minyak nabati lain juga sama sehingga terjadi persaingan. Di India, penurunan yang paling besar adalah minyak sawit. Penyebabnya minyak sawit paling kurang promosinya. Minyak goreng kemasan di India didominasi oleh minyak nabati lain.

“Ibu-ibu disana malu membeli minyak goreng sawit kemasan di super market, kalau beli maka pembantunya yang disuruh. Saya pernah bertanya sama seorang ibu di India dan mereka membandingkan minyak goreng sawit dengan minyak nabati lainnya antara maruti (mobil lokal) dan mercedez, dilihat dari harga dan kinerjanya. Indonesia perlu meningkatkan citra minyak goreng sawit di India,” kata Derom.

Di dalam negeri, mayoritas chef di hotel-hotel tidak kenal minyak goreng sawit karena ketika mengambil pendidikan memasak di luar negeri menggunakan minyak nabati lain. Padahal minyak goreng sawit punya banyak keunggulan seperti tidak berasap sampai suhu 230 derajat Celsius.

Komposisi minyak jenuh dan tidak jenuh sawit seimbang sehingga bisa digunakan berulang kali. Minyak nabati lain tidak bisa digunakan menggoreng dua kali. Keunggulan ini harus dipromosikan produsen minyak goreng sawit kemasan baik di dalam negeri maupun di luar negeri.

Program B30 dan D100 harus didukung dengan penelitian penghematan emisi karbon. Libatkan peneliti dari negara lain sehingga B30 dan D100 tidak hanya digunakan di Indonesia saja tetapi di negara lain.

(Visited 16 times, 1 visits today)