6 December, 2019

JAKARTA, Perkebunannews.com- Pekebun atau petani teh bakal resah. Uni Eropa akan melarang penggunaan glifosat di pertanian, termasuk perkebunan teh. Gulma pun akan sulit dikontrol. Produksinya pun juga melorot. Padahal upaya pengendali gulma saat ini masih menjadi andalan perkebunan.

Direktur Pusat Penelitian Teh dan Kina Dadan Rohdiana mengakui, glifosat sangat efektif mengendalikan gulma rumput dan daun lebar yang mempunyai perakaran dalam dan diaplikasikan sebagai herbisida pasca tumbuh. Glifosat adalah herbisida yang mempunyai spektrus pengendalian luas bersifat nonselektif.

Dadang mengakui, penggunaan glifosat di perkebunan teh sudah mulai dipermasalahkan. “Menurut info yang saya dapatkan larangan penggunaan glifosat berlakunya per 15 Desember 2019 ini. Penggunaannya dilarang MRL nya 0,01 ppm,” katanya kepada Perkebunannews.com.

Salah satu aspek budidaya tanaman perkebunan yang sangat penting adalah pengendalian terhadap gulma. “Gulma dapat menurunkan hasil dengan cara berkompetisi dengan tanaman pokok, disamping itu gulma dapat sebagai inang alternatif hama dan penyakit tanaman,” ujar Dadan.

Menurut Dadan, apabila gulma yang ada sebagai inang pengganti hama penyakit, maka penurunan hasilnya sangat merugikan perkebunan, oleh sebab itu perlu dikendalikan. Di perkebunan teh gilfosat memang masih digunakan sebagai andalan pengendali gulma.

Dadan mengatakan, glifosat mampu mengendalikan gulma dikarenakan herbisida terserap dengan baik hingga mencapai akar. Sedangkan herbisida lainnya telah mengalami penurunan kemampuan pengendalian gulma (YR)

(Visited 32 times, 1 visits today)