28 January, 2020

Tidak seperti biodiesel yang sudah bisa 30% bahkan sekarang sudah mau ke 50%, pencampuran bioetanol pada premium atau bensin lainnya untuk mencapai 2% saja tidak pernah bisa. Saat ini belum ada realisasi (0%).

Padahal tidak seperti biodiesel yang perlu penyesuaian mesin, bioetanol justru membuat premium, pertalite atau pertamak menjadi lebih baik. Huda Wijayanto, dari Direktorat Energi Terbarukan, Ditjen Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Energi (EBTKE), Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral menyatakan hal ini.

Bahan baku terbaik untuk bioetanol adalah tebu. Dari 4 kg tebu bisa menjadi 1 kg bioetanol. Masalahnya di Indonesia bioetanol diproduksi dari tetes yang merupakan produk samping pabrik gula. Tetes selain digunakan untuk bioetanol juga jadi bahan baku produk lain seperti MSG, pakan ternak dan lain-lain.

Penggunaan bioetanol juga tidak ada subsidi dari BPDPKS. Sedang menggunakan APBN untuk mensubsidi sekarang tidak memungkinkan. Karena itu sedang dicari cara pendanaannya. Saat ini pabrik yang sangat siap adalah PT Energi Agro Nusantara (Enero) anak perusahaan PTPN X yang terintegrasi dengan PG Gempol Krep.

Izmirta dari PT Enero menyatakan pasar untuk produk bioetanol semakin sulit karena penyerapan dari Pertamina belum ada. Selain itu masuk ke pasar ekpor seperti India dan Pakistan dikenakan tarif impor.

Pasar yang bagus adalah Filipina yang mandatory B10 lewat biotenaol. Tetapi ekspor tetes tidak dikenakan bea keluar sehingga tetes Indonesia banyak diekspor kesana. Seharusnya Indonesia mengekspor bioetanol bukan tetes. Tetes harus diolah disini dulu sehingga ekspornya dikenakan bea keluar.