2nd T-POMI
2023, 18 April
Share berita:

Pontianak, Mediaperkebunan.id

Era baru perkebunan bioindustri ditandai dengan peningkatan produksi dan produktivitas, nilai tambah dan daya saing. Kualitas hasil perkebunan perlu dijaga. Salah satunya dengan mengurangi penggunaan pestisida kimia secara berlebihan.

Penggunaan pestisida  kimia secara berlebihan dapat mengurangi kualitas hasil perkebunan. Residu ambang batas pestisida kimia yang terkandung dalam produk perkebunan akibat penggunaan pestisida kimia yang berlebihan akan menganggu kesehatan dan lingkungan.

Karena itu penggunaan pestisida kimia harus diatur dan diterapkan secara bijak. Salah satu cara untuk mengurangi penggunaan pestisida adalah dengan penggunaan Agen Pengendali Hayati (APH). Salah satunya Trichoderma yang berfungsi sebagai APH yaitu biofungsida maupun sebagai pupuk hayati.

Dalam kunjungan ke Balai Proteksi Tanaman Perkebunan (BPTP) Pontianak, Sekretaris Ditjen Perkebunan, Heru Tri Widarto, minta BPTP untuk melakukan kajian dan pengembangan lebih lanjut terhadap APH yang sudah dimiliki. Laboratorium Unit Pengendalian Hayati (LUPH) sudah memiliki berbagai koleksi APH dan Heru minta dikembangkan lagi.

Kunjungan kerja Sekteraris Ditjenbun ke BPTP Pontianak dalam rangka perluasan wewenang dan tanggung jawab BPTP Pontianak di wilayah kerja Pulau Kalimantan. Tugas pokok dan fungsi LUPH adalah  pelaksanaan pengembangan teknolog proteksi perkebunan yang berorientasi pada implementasi pengendalian OPT ramah lingkungan.

Heru berharap penggunaan APH pada petani masa mendatang  semakin banyak diterapkan sehingga produk perkebunan dan pertanian lebih sehat  dan semakin luas diterima pasar.

Baca Juga:  Hadapi Karhutla 2020 MINAMAS Plantation Lakukan Sinergi Multipihak