13 September, 2020

Jakarta, Media Perkebunan.id

Tahun 2019 , Indonesia setiap hari rata-rata menghasilkan nata de coco 200 ton/hari. Derri Kusuma dari Gabungan Pengusaha Nata De Coco Indonesia (GAPNI) menyatakan hal ini. Nata de Coco adalah serat selulosa atau tumpukan benang selulosa yang dihasilkan bakteri acetobacter Xylinium yang hidup dalam media air kelapa.

Teknologi ini masuk ke Indonesia dari Filipina tahun 1973 dan dikenalkan secara luas tahun 1975. Tahun 1981 sampai sekarang nata de coco sudah dikenal luas. Permintaan pasar nata de coco cukup tinggi baik domestik maupun internasional.

Ketersediaan air kelapa di daerah juga masih melimpah. Proses produksinya padat karya, menyerap tenaga kerja banyak. Mengubah limbah menjadi produk bernilai ekonomi tinggi. Cocok untuk UMKM karena tidak memburuhkan peralatan modern.

Untuk food saat ini ada 55 merek produk nata de coco yang beredar di Indonesia. Sedang non food tidak ada datanya, saat ini beberapa produk komestik menggunakan bahan baku nata de coco. Peluang ekspor terbuka dengan pembeli potensial Al Amin Enterprise Pakistan, Bikoko Kolombia, Yogi Koko Kolombia dan Nutrico India.

Barlina Rindengan, Peneliti Balai Penelitian Palma menyatakan air kelapa mencapai 22% dari total buah kelapa. Dengan luas kelapa tahun 2017 3.649.645 ha dan produksi 2.866.870 ton maka potensi air kelapa adalah 3.353.067,9 ton.

Ekspor kopra Sulut tahun 2018 11.380 ton, 1 kg kopra membutuhkan 7,5 butir maka kelapa yang digunakan 85,35 juta butir. Dengan asumsi berat kelapa rata-rata 1,25 kg maka total berat kelapa 106.687,5 ton, air kelapa yang dihasilkan 23,471,25 ton. Diolah jadi nata de coco maka produksi 17,603, 43 ton. Kalau harga Rp1.300/kg maka nilainya Rp23 miliar, kalau harga Rp15.000/kg maka nilainya Rp264 miliar.

(Visited 34 times, 1 visits today)