https://api.whatsapp.com/send?phone=6281361509763
Petrokimia Gresik
17 May, 2021
Bagikan Berita

Jakarta, mediaperkebunan.id – Sudah bukan rahasia lagi bahwa di bulan Ramadhan dan Lebaran kebutuhan gula konsumsi atau gula kristal putih (GKP) meningkat hinggga dua kali lipat. Namun, meski konsumsi meningkat, Direktorat Jenederal Perkebunan (Ditjenbun), Kementerian Pertanian (Kementan) memastikan stok gula GKP tetap aman di pasca Lebaran.

Sekretaris Ditjenbun, Kementan, Antarjo Dikin optimis bahwa stok gula pasca Lebaran hingga 3 bulan kedepan masih tetap aman. Bahkan harga gula pun cenderung stabil, tidak akan ada lonjakan harga yang signifikan.

“Bahkan per 30 April stok gula sebanyak 717.447 ton. Stok tersebut berada di rumah tangga sebanyak 328.743 ton atau 46 persen, pedagang 151.594 ton (21 persen) dan pabrik gula sebanyak 226.967 ton. Sedangkan di petani sekitar 10 ribu ton,” terang Antarjo.

Lebih lanjut, Antarjo menjelaskan, dengan kebutuhan gula konsumsi yang setiap bulan sebesar 229.478 ton maka dengan stok gula sebanyak 717.447 ton cukup untuk 3 bulan kedepan (bulan Juni). Kemudian pada untuk bulan Juli beberapa sentra tebu sudah masuk masa tebang (panen). Artinya untuk bulan-bulan kedepannya sudah ada tambahan gula.

“Jadi diperkirakan untuk kedepan tidak akan ada impor gula untuk konsumsi karena sudah stok untuk 3 bulan kedepan ditambah dengan masuknya masa tebang di bulan Juli,” jelas Antarjo.

Jadi, Antarjo memaparkan, “diprediksi pada Juni akan ada produksi gula sebanyak 341.033 ton, Juli 404.327 ton, Agustus 552.601 ton, September 417.660 ton, Oktober 259.971 ton dan November 125.869 ton.”

Meski begitu, Antarjo mengingatkan, hal yang perlu diantisipasi adalah penyebaran stok gula ke daerah-daerah yang jauh dari sentra tebu. Sehingga untuk mengantisipasi hal tersebut Kementan dalam hal ini Badan Ketahanan Pangan (BKP) akan berkoordinasi dengan Perum Bulog untuk mendistribusikan gula dari sentra tebu ke daerah-daerah yang jauh dari sentra tebu.

Baca Juga  Peremajaan Karet Bukan Monokultur Lagi

Adapun wilayah yang tinggi produksinya yakni Lampung, Sumatera Selatan, Pulau Jawa, Sulawesi Selatan dan Sulawesi Tenggra. Daerah-daerah tersebut ada masih cukup aman karena di wilayah tersebut terdapat pabrik gula (PG).

Disisi lain, untuk meningkatkan produksi gula (GKP) maka Ditjenbun terus melakukan pembenahan di hulu (budidaya). Adapun untuk tahun 2021 ini Kementan telah memberikan bantuan ke petani untuk program intensifikasi melalui bantun pupuk dan herbisida.

“Jadi dengan melakukan intensifikasi dan revitalisasi diharapkan produksi gula kedepan akan terus meningkat lagi,” pungkas Antarjo. (YIN)

(Visited 89 times, 1 visits today)