30 September, 2020

Jakarta, Media Perkebunan.id

OPT (Organisme Penganggu Tanaman) utama yang menyerang kelapa sawit berdasarkan data serangan OPT Perkebunan Ditjenbun adalah kumbang badak (Oryctes Rhinoceros), Ulat api (Parasa sp, Setora sp), busuk batang (Ganoderma boninense) dan hama verterbrata (babi hutan, tikus). Ardi Praptono, Direktur Perlindungan Perkebunan, Ditjen Perkebunan menyatakan hal ini dalam webinar “Peningkatan Produktivitas dan Upaya Mengatasi Buah Trek Pada Perkebunan Kelapa Sawit Rakyat” yang diselenggarakan POPSI dan Media Perkebunan.

Kumbang badak luas serangan mencapai 23.829,04 ha dengan potensi kerugian kehilangan hasil Rp27,74 miliar. Sebaran serangan Aceh, Jambi, Kalsel, Kaltim, Kaltara, Kepri, Lampung, Sulsel dan Sulut. Menyerang semua stadia tanaman mulai dari pembibitan sampai tanaman tua, menyebabkan penurunan produksi. Pencegahan dengan pegamatan/monitoring, pemasanan ferotrap, penanaman tanaman penutup tanah, pengelolaan biomassa saat replanting dan pembongkaran breeding sites. Pengendalian dengan pengutipan larva, aplikasi jamur Metarhizium Sp, aplikasi insektisida, aplikasi kapur barus.

Ulat api luas serangan 1.002,89 ha,potensi kerugian kehilangan hasil Rp1,4 miliar. Sebaran serangan di Aceh, Jambi, Kalsel, Kaltim, Kepri, Lampung, Papua Barat, Sumbar, Sumsel dan Sumut. Merusak bagian bawah daun mulai dari pinggir ke arah lidinya. Akibatnya daun kering, pelepah tergantung dan buahnya gugur. Pengendalian dengan mekanis, hayati dan kimia.

Busuk pangkal batang serangan 46.913,98 ha dengan potensi kerugian Rp76,45 miliar. Sebaran serangan Aceh, Bengkulu, Jambi, Kalsel, Kaltim, Kep Babel, Lampung, Sumbar dan Sumut. Gejala yang khas adalah terjadi pembusukan pada pangkal batang yang diikuti dengan tumbangnya pohon. Pengendalian pada daerah serangannya tinggi apabila replanting sebaiknya menggunakan sistim lubang tanam besar. TM mati agar dilakukan sanitasi dengan batang dicincang dan dibakar. Pembuatan parit isolasi dengan kedalaman 75 cm ukuran 4 x 4 meter.

Babi hutan menyerang 2.678,65 ha tersebar di Aceh, Jambi, Kalsel, Kaltim, Kaltara, Kep Babel dan Sumbar. Habitat yang disukai hutan terbuka, semak belukar dan padang alang-alang. Gejala serangan tercabutnya tanaman dengan bekas umbut dimakan. Pengendalian dengan pemasangan perangkap, perburuan, menggunakan predator babi hutan, akar/umbi Gloriosa superba LINN dan akar tuba, pestisida nabati yang dicampur dengan umpan.

Tikus menyerang 14.300,12 ha dengan potensi kerugian Rp19,97 miliar, sebaran serangan Aceh, Jambi, Kalsel, Kaltim, Kaltara, Kep Babel, Lampung, Papua Barat, Sumbar, Sumsel dan Sumut. Memiliki daya rusak yang besar karena merusak tanaman dalam waktu singkat, kehilangan hasil dalam jumlah besar waktu singkat walapun hanya beberapa ekor tikus saja.

Pada TBM, mengerat serta memakan bagian pangkal pelepah daun sehingga mengakibatkan pertumbuhan tanaman terhambat bahkan mati jika keratan mengenai titik tumbuhnya. Pada TM memakan buah baik yang muda denan seluruh bagian dimakan , dan tua hanya bagian buahnya dengan meninggalkan seratnya. Pengendalian dengan membersihkan sarang tikus dan gulma yang ada dikebun, gropyokan dengan penggalian lubang aktif tikus; perangkap; memanfaatkan predator yaitu burung hantu, elang dan musang, ular; fumigasi.

“Ditjenbun lewat Balai Besar Perbenihan dan Proteksi Perkebunan Medan, Surabaya, Ambon dan Balai Proteksi Tanaman Perkebunan Pontianak akan terus melakukan bimbingan teknis dan pendampingan pada petani kelapa sawit melakukan pengendalian OPT secara terpadu, terutama menggunakan pengendali hayati,” kata Ardi.

(Visited 33 times, 1 visits today)