9 December, 2020
Bagikan Berita

Jakarta, Mediaperkebunan.id

Nilai Tukar Petani (NTP) perkebunan rakyat pada bulan Oktober 2020 mencapai 107,58, merupakan yang paling tinggi diantara subsektor pertanian lainnya. Selain itu dibanding Juni 2020 yang mencapai 98,47, artinya terjadi kenaikan yang luar biasa tinggi.

“Kenaikan ini luar biasa sekali. Hal ini menunjukkan pada masa pandemi ini permintaan dunia produk perkebunan rakyat tinggi disertai kenaikan harga. Produk perkebunan rakyat sebagian besar untuk pasar ekspor,” kata Dirjen Perkebunan, Kasdi Subagyono.

Kemeterian Pertanian sendiri mentargetkan sampai akhir tahun NTP total 103 dan bulan Oktober sudah mencapai 102,25. Nilai Tukar Usaha Pertanian Tanaman Perkebunan Rakyat mencapai 108,27 atau paling tinggi dibanding subsektor lainnya. Sedang NTUP total 102,42.

Ekspor Pertanian Indonesia menurut Badan Pusat Statistik pada September 2020 mencapai USD 410 juta. Dibanding Agustus 2020 naik 20,84% sedang dibanding September 2019 naik 16,22%. “Ekspor terbesar pertanian adalah komoditas perkebunan yaitu minyak kelapa sawit, karet, kopi, kelapa dan kakao. Kinerja ekspor perkebunan masih luar biasa dalam kondisi pandemi ini,” kata Kasdi.

Januari sampai September 2020 volume ekspor komoditas perkebunan mencapai 30,23 juta ton sedang nilainya USD19,20 miliar. Dibanding periode yang sama tahun 2019 maka volume turun 7% tetapi nilai naik 5%.

Komoditas utama adalah kelapa sawit yang volumenya mencapai 25,28 juta ton (turun 8% dibanding periode yang sama 2019) sedang nilainya USD13,5 miliar (naik 12%); karet volume 1,8 juta ton (turun 10%) nilai USD2,32 juta (turun 19%); kakao volume 455,86 ribu ton (naik73%) nilai USD 907,34 ribu (naik 3%); kelapa volume 1,52 juta ton (naik 14%) nilai USD819,25 juta (naik 27%); kopi volume 259,31 ribu ton (naik 3%) nilai USD USD587 juta (turun 3%).

Baca Juga  Penegakan Hukum Kunci Menghilangkan Perdagangan Ilegal

Bulan September ekspor pertanian yang didominasi perkebunan mencapai USD410 juta atau naik 20,84% dibanding bulan Agustus 2020 dan dibanding September 2019 naik 16,22%. Sumbangan sektor pertanian terhadap ekspor non migas adalah 2,95% .

Ekspor non migas September 2020 urutan pertama adalah lemak dan minyak hewan/nabati yang didominasi CPO/PKO volume 2,516 juta ton nilai USD1,71 miliar. Urutan ke 7 karet dan barang karet volume ekspor 291.000 ton nilai USD508,5 juta. Ekspor pertanian Januari-September 2020 USD2,82 miliar atau naik 9,7% dibanding periode yang sama tahun 2019. Sumbangan sektor pertanian adalah 2,4%.

Pertumbuhan ekonomi triwulan 1-3 2020 dibanding 2019 terkontraksi 2,03%. Sedang Q3 tumbuh 5,05% dibanding Q2. Pertumbuhan pertanian pada Q3 2019 1,05%, sedang Q2 2020 16,24% dan Q3 2020 1,01%.

Pertumbuhan ekonomi Q3 2020 secara y to y terkontraksi 3,49% naik dari Q2 terkontraksi 5,32%. Lapangan usaha pertanian Y to Y adalahQ3 2019 3,12%, Q2 2020 2,19% dan Q3 2020 2,15%. Perkebunan Q3 2020 Y on Y tumbuh 0,67%, Q to Q tumbuh 10,97% dan C to C tumbuh 1,3%. Penyebabnya peningkatan permintaan luar negeri untuk kakao, karet, cengkeh dan tembakau.

Angka-angka tersebut merupakan kinerja nyata pertanian. Kinerja kalau dikaitkan dengan anggaran, yang ada saat ini maka tidak punya daya dongkrak besar. Karena itu dimanfaatkan sumber pembiayaan lainnya yaitu KUR (Kredit Usaha Rakyat). Target KUR Pertanian adalah Rp50 triliun dan yang sudah diserap Rp45 triliun. Kalau permintaan besar maka bisa target ditambah lagi.

Perkebunan menyerap Rp15 triliun. Data 20 November 2020 untuk perkebunan kredit mencapai Rp15,06 triliun atau 31% dari realisasi kredit KUR total dengan debitur 391.828 orang. Subsektor perkebunan penyerap KUR terbesar adalah kelapa sawit kemudian karet, tebu, kopi, cengkeh, kakao. Salah satu pendukung kinerja perkebunan adalah hadirnya integrator offtaker.

(Visited 137 times, 1 visits today)