18 August, 2016

KUCHING – Moratorium dan restorasi ini ternyata berdampak negatif pada kehidupan para petani kecil yang hidup dari tanaman sawit, hal ini karena hanya tanaman kelapa sawit yang dapat tumbuh di lahan gambut, sekalipun dengan kandungan lahan yang asam.

Hal tersebut disampaikan oleh Khor Yu Leng, B.A. (Oxon), M.Sc. (Econs), Head Research for Southeast Asia at LMC, dalam 15th International Peat Congress di Kuching, Malaysia.

Melihat hal ini, Leng menambahkan bila petani kecil dilarang membuka lahan gambut untuk menanam sawit, maka harus ada sumber perekonomian alternatif bagi mereka. “Sektor apa yang bisa menggantikan penghasilan petani kecil dari sawit saat ini?” Tanya Leng.

Memang, Leng mengakui sejak bencana asap diakibatkan penggunaan lahan gambut yang terjadi September dan November 2015 lalu. Lebih dari 100 ribu titik api di Indonesia, tersebar di sekitar 2 juta hektar lahan, ini merupakan elnino terparah. Kabut asap menyebabkan sekitar 43 juta warga negara Indonesia mengalami keracunan asap di Kalimantan dan Sumatera.

“Tapi, bukan berarti tidak ada solusi agar peteni bisa membuka lahan gambut, karena ada banyak tanaman yang bisa diatanam di lahan gambut,” himbau Leng.

Diantaranya, Leng mengusulkan tata cara menggunakan lahan gambut yang baik dan benar, dengan begitu maka akan tercipta perkebunan kelapa sawit yang sustainable. YIN

(Visited 79 times, 1 visits today)