23 July, 2020

Jakarta, mediaperkebunan.id – Dimasa pandemi, terus bertumbuhnya pasar domsetik menjadi harapan bagi serapan produksi minyak sawit Indonesia yang terus meningkat. Namun demikian pasar ekspor pun patut terus dikembangkan, dengan beragam strategi.

Pandemi Covid 19 yang menginfeksi dunia sejak akhir tahun 2019 telah menggerus perekonomian global dan mengubah peta produksi dan daya saing minyak nabati. Tidak hanya produksi minyak kedelai yang menjadi komoditas unggulan negara barat yang terdampak pandemi tersebut, keberadaan minyak kelapa sawit (Crude Palm Oil/CPO) yang hampir dalam satu dekade terakhir mendominasi pasar minyak nabati dunia ikut terdampak.

Hanya saja, sebagai minyak nabati yang kompetitif, keberadaan minyak sawit justru menjadi lebih kuat dibanding minyak nabati lain seperti minyak kedelai, minyak bunga matahari dan rapeseed oil. Karena itu, guna menjaga agar komoditas strategis ini tetap berdaya saing, seluruh pemangku kepentingan industri minyak kelapa sawit perlu bersama-sama menjaga keberlangsungan penyerapan pasar domestik sekaligus tetap mendorong kinerja ekspor minyak sawit.

Apalagi komposisi pemilik perkebunan kelapa sawit saat ini sekitar 41% dikelola oleh masyarakat, dan sekitar 54,8% dikelola oleh perkebunan kelapa sawit besar swasta, sementara sisanya sebanyak 4,3% dikelola perusahaan plat merah.

Tercatat, Provinsi Riau berada di posisi pertama dalam daftar daerah yang memiliki kebun sawit terluas di Indonesia mencapai 2,80 Juta ha pada 2019, atau sekitar 19% dari luas areal sawit di Indonesia dan posisi kedua dan ketiga ditempati Provinsi Kalimantan Barat seluas 1,86 juta ha dan Kalimantan Tengah sekitar 1,68 juta ha.

Lantas, dari segi produktivitas cenderung masih fluktuatif dari tahun ke tahun namun demikian relatif meningkat selama periode 2014-2020 dengan rata-rata laju pertumbuhan sebesar 0,37% per tahun.

“Perkebunan besar baik swasta maupun negara memberikan kontribusi terbesar terhadap peningkatan produktivitas kelapa sawit di Indonesia. Sebaliknya Perkebunan rakyat memiliki produktivitas yang lebih rendah,” tutur Mantan Ketua Watimpres, Prof. Sri Adiningsih, dalam Webinar yang diadakan Forum Jurnalis Sawit (FJS).
Sebab itu dibutuhkan peningkatan produktivitas perkebunan kelapa sawit rakyat, salah satunya dengan melakukan peremajaan sawit rakyat. Disamping penerapan perkebunan dengan teknik mekanisasi di Indonesia yang masih sangat minim dilakukan.

Di tingkat perdagangan luar negeri, menunjukkan bahwa aktivitas ekspor minyak sawit menyumbang secara positif terhadap pendapatan nasional dan devisa negara.

Meskipun volume dan nilai ekspor minyak sawit sempat mengalami penurunan di tahun 2016, namun tren volume dan nilai eskpor sawit cenderung meningkat dalam satu dekade terakhir. Pada Tahun 2018, tercatat 65% dari total produksi CPO Indonesia di ekspor, dan sisanya dikonsumsi di dalam negeri.

“Nilai eskpor sawit dan kontribusinya jauh lebih tinggi dari komoditas strategis lainnya, yang dapat diartikan sebagai nilai plus dari kinerja industri sawit nasional relatif terhadap industri komoditas strategis lainnya,” tutur Prof Sri Adiningsih yang saat ini menjabat Komisaris Indosat Ooredoo.

Selama masa pandemi ini, kata Prof Adi Ningsih, perlu ada transformasi industri kelapa sawit, lantaran pada masa pandemi, terdapat penerapan new normal, paska pandemi, yang pada akhirnya mendorong gaya hidup dan ekonomi di dunia mulai berubah. Sebab itu dibutuhkan perubahan mindset kelapa sawit, dari bisnis perkebunan ke indsutri pengolahan kelapa sawit. Termasuk sektor bioenergi adalah masa depan bisnis kelapa Sawit.

“Indonesia berpotensi menjadi produsen bioenergi terbesar di dunia, tetapi mesti dicari formula DMO dan cap pricing yang kompetitif dan menarik,” ucap Prof Adi Ningsih. (YR)

(Visited 13 times, 1 visits today)