17 January, 2020

Jakarta, perkebunannews.om – Badan Pusat Statistik (BPS) merilis data bahwa, ekspor komoditas pertanian pada bulan Desember 2019 naik 24,35 persen. Hal ini disebabkan meningkatnya ekspor perkebunan seperti kelapa sawit, kopi, kakao, karet, lada, rempah-rempah dan lainnya.

“Jadi sektor pertanian tercatat menyumbang angka cukup besar selama periode Desember, yakni USD 370 juta atau naik sebesar 24,35 persen,” ujar Kepala BPS, Suhariyanto.

Menanggapi hal tersebut, Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo mengatakan ini merupakan esensi peran negara dalam memajukan kesejahteraan rakyat. Artinya negara berhasil memfasilitasi ekspor komoditas lokal dan memproteksi terjadinya impor.

“Tugas Negara adalah proteksi (perlindungan,- red), untuk tujuan kepentingan rakyat. Tak mungkin mewujudkn ide kesejahteraan tanpa tindakan Negara,” ujar Syahrul.

Oleh karena itu, Syahrul menekankan ke depan untuk mempertahankan dan meningkatkan produksi serta ekspor pertanian, salah satu kebijakan tegas yang dijalankan adalah melakukan perlindungan terhadap lahan pertanian, sehingga tidak memberikan ruang sedikit pun adanya alih fungsi lahan.

Namun, berdasarkan data dilapangan bahwa produktivitas tanaman perkebunan masih rendah dibandingkan dengan potensi yang seharusnya. Melihat hal ini, maka peningkatakn produktivitas solusinya.

“Jadi solusinya yaitu menanam, memetik dan memasarkan,” terang, Syahrul.

Meskipun Syahrul mengakui, secara umum perkebunan mempunyai prospek yang cerah dan bisa meningkatkan ekspor tiga kali lipat. Seperti kelapa sawit, karet, kakao, kopi kelapa, lada, pala, dan lainnya. Tapi sekali lagi harus ditingkatkan dahulu produksinya.

“Terkait jika ada kendala dalam melakukan ekspor, maka saya bisa memberikan solusi. Namun yang terpenting saya titip buka lapangan pekerjaan melalui peningkatan ekspor,” tegas Syahrul .
Hal senada diungkapkan Staf Ahli Menteri Pertanian Bidang Bio Industri, Bambang bahwa untuk meningkatkan ekspor perkebunan harus meningkatkan produktivitas, terlebih sebagian besar lahan perkebunan dimiliki oleh petani.

Salah satunya pada komoditas kakao. Permintaan akan biji kakao baik di dalam ataupun luar negeri cukup tinggi.

“Ini artinya komoditas kakao memiliki peran strategis yang sangat penting, bukan hanya sebagai penyumbang ekspor tetapi juga sebagai sumber mata pencaharian utama lebih dari 2 juta keluarga petani dan sumber bahan baku indurtri,” papar Bambang.

Artinya, Bambang mengakui bahwa peningkatan produksi memberikan peluang pada berkembangya start up, jasa angkutan, perdagangan, industri agro input, dan pengolahan yang berujung pada peningkatan kesejahteraan bagi semua terutama petani.

(Visited 16 times, 1 visits today)