24 August, 2020

Pontianak, Media Perkebunan.id

Dalam rangka mendorong peningkatan produktivitas kelapa di wilayah Kalimantan Barat, Kementerian Pertanian (Kementan) melalui Balai Proteksi Tanaman Perkebunan (BPTP) Pontianak sebagai instansi pemerintah, yang merupakan UPT Direktorat Jenderal Perkebunan melakukan kegiatan pelatihan untuk mengendalikan Organisme Pengganggu Tanaman (OPT) pada tanaman kelapa.

Hal ini sejalan dengan arahan Menteri Pertanian (Mentan) Syahrul Yasin Limpo supaya jajarannya sigap melakukan pendampingan dan terus berupaya menjaga ketersediaan dan stabilitas pasokan serta peningkatan produksi maupun produktivitas komoditas pertanian termasuk perkebunan.

Usaha perkebunan sebagai salah satu sub-sektor strategis memiliki peranan penting dalam pembangunan nasional, untuk itu produksi dan produktivitas serta kualitas komoditas sangat perlu dijaga, sehingga ketersediaan komoditas tetap tersedia dan berdaya saing. Tak dapat dipungkiri, untuk mewujudkannya pasti dihadapkan berbagai tantangan, salah satunya Organisme Pengganggu Tanaman (OPT) pada tanaman.

Salah satu OPT penting yang menyebabkan penurunan produktivitas kelapa adalah kumbang tanduk (Oryctes rhinoceros). Awal Juli lalu, BPTP Pontianak mengadakan demplot pengendalian kumbang tanduk bersama Kelompok Tani Nyiur Nusantara dusun Makraga Desa Parit Baru Kecamatan Salatiga Kabupaten Sambas. Acara ini dihadiri oleh Kepala Balai BPTP Pontianak, Kepala Desa Parit Baru, Kepala BPP Kecamatan Salatiga, PPL Parit Baru, tim BPTP Pontianak, Koordinator dan Petugas UPPT Pemangkat, serta 25 orang petani dari Kelompok Tani Nyiur Nusantara.

Menurut Kepala Balai Proteksi Tanaman Perkebunan (BPTP) Pontianak, Sajarwadi, pelatihan yang diberikan kepada pekebun kelapa salah satunya dalam bentuk demonstrasi plot (demplot) berupa pemberian percontohan kepada pekebun tentang cara pengendalian kumbang tanduk secara terpadu.

Pada kegiatan tahap pertama ini, Lanjut Sajarwadi, Tim BPTP Pontianak mengadakan sosialisasi tentang pengenalan OPT Tanaman Kelapa yang difokuskan pada kumbang tanduk beserta cara pengendaliannya.

Selanjutnya diberikan percontohan salah satu cara pengendalian kumbang tanduk dengan penggunaan perangkap feromon. Tahap lanjutan kegiatan adalah pengamatan dari penggunaan perangkap feromon dan pemanfaatan jamur Metarhizium anisopliae untuk mengendalikan larva kumbang tanduk yang akan dilaksanakan sebulan setelah kegiatan ini.

“Kegiatan ini dimaksudkan untuk memberikan pemahaman kepada para pekebun tentang makna dari OPT tanaman kelapa, termasuk pengertian hama, pernyakit, dan teknik pengendaliannya. Selain itu, juga ditekankan bahwa pengendalian OPT tidak efektif jika hanya dilakukan dengan satu cara saja dan individu (hanya di satu kebun tertentu), melainkan dengan berbagai cara atau disebut juga pengendalian hama/penyakit secara terpadu dan dilakukan secara serentak (bersama-sama dengan pekebun yang lain),” katanya.

Pada kegiatan ini turut dilaksanakan praktek pengamatan serangan kumbang tanduk dan pemasangan feromon trap. Feromon yang digunakan merupakan feromon sintetis dengan kandungan bahan kimia etil-4 metil oktanoat. Feromon tersebut efektif untuk mengendalikan hama kumbang tanduk dewasa dengan radius ± 2 Ha. Lahan yang dipilih menjadi lokasi demplot merupakan milik anggota kelompok tani Nyiur Nusantara dengan luas lahan ±5 Ha.

Diketahui dari tim BPTP Pontianak, umur tanaman kelapa bervariasi mulai dari 3-20 tahun. Adapun tanaman kelapa yang terserang kumbang tanduk rata-rata tanaman muda dengan usia tanam 3-8 tahun. Berdasarkan dari pengamatan kasar intensitas serangan kumbang tanduk di lokasi sebesar ≥20% (kategori berat). Perangkap feromon dipasang pada tiang kayu dengan ketinggian 3-4 meter dengan harapan senyawa feromon akan efektif terbawa udara dan mengundang kumbang tanduk untuk masuk ke perangkap.

Kepala BPTP Pontianak mengajak para pekebun kelapa untuk berpartisipasi aktif dalam mengikuti seluruh rangkaian kegiatan demplot pengendalian OPT Kelapa dan dapat menerapkannya dalam menjaga kebersihan kebun masing-masing.

“Diharapkan dengan adanya kegiatan demplot ini dapat meningkatkan skill dan pengetahuan pekebun sehingga tanaman terjaga, produksi kelapa terjaga, stabilitas perekonomian pekebun terjaga, terlebih dalam masa pandemic Covid-19,” ujar Sajarwadi.

Sajarwadi menambahkan, Di era New Normal (kebiasaan baru) akibat pandemi Covid-19, kegiatan pelatihan ini tentunya dilaksanakan dengan mengikuti prosedur protokol Covid-19 seperti mencuci tangan sebelum kegiatan, pengecekan suhu tubuh peserta kegiatan, memakai masker, dan menjaga jarak (physical distancing).

(Visited 51 times, 1 visits today)