30 August, 2020

Jakarta, Media Perkebunan.id

Rempah Indonesia pernah berjaya di masa lampau. Bangsa-bangsa asing berdatangan ke kepulauan Nusantara, berburu hasil perkebunan beraroma dan rasa kuat ini. Rempah asal Indonesia menjadi komoditas berharga sangat tinggi di pasar dunia.

Saat ini pemerintah terus berupaya untuk mengangkat kembali kejayaan rempah, salah satunya pala. Dalam kunjungannya ke kebun sumber benih pala di Provinsi Maluku akhir Mei lalu, Menteri Pertanian (Mentan) Syahrul Yasin Limpo meminta jajarannya melakukan pendampingan untuk meningkatkan nilai tambah, daya saing dan keunggulan setiap komoditas perkebunan berupa rempah, yaitu pala.

Menurutnya, pendampingan kepada para petani harus dilakukan dengan menyesuaikan, baik teknologi maupun dengan situasi yang terjadi. “Transformasi teknologi kepada petani sudah keharusan. Sekarang era digital. Pendampingan-pendampingan, bimbingan teknis tentang bagaimana cara budidaya harus menyesuaikan zaman. Apalagi di situasi seperti ini, pembatasan tatap muka. Maka kita harus memperkuat sektor hulu dan mengembangkan sektor hilir sehingga ada nilai tambah,” ucap Mentan.

Budidaya tanaman pala sekarang ini memang dihadapkan pada berbagai tantangan, antara lain adanya penurunan produktivitas disebabkan oleh tanaman tua, serangan Organisme Pengganggu Tanaman (OPT), benih yang kurang baik, dan penerapan budidaya serta pemanenan atau pengolahan hasil yang kurang tepat.

Direktur Jenderal Perkebunan, Kasdi Subagyono mengungkapkan pihaknya menaruh perhatian besar pada peningkatan produksi, produktivitas, nilai tambah dan daya saing produk perkebunan, termasuk komoditas pala.
“Upaya pemerintah yang telah ditempuh untuk meningkatkan produksi dan produktivitas pala antara lain penyediaan benih pala bersertifikat dan berlabel. Sekalipun di masa pandemik, permintaan konsumen untuk sertifikasi tanaman pala tidak mengalami penurunan,” katanya.

Dalam Rapat Kerja dengan Komisi IV DPR RI, Kasdi menyebutkan untuk tahun 2021, Kementerian Pertanian menargetkan produksi pala sebesar 42.900 ton. “Target yang ingin kami capai di 2021 ada beberapa yang sudah masuk ke prioritas nasional ada yang prioritas bidang. Prioritas nasional adalah kelapa sawit, kopi, kakao, tebu, cengkeh, lada dan pala,” paparnya.

Berdasarkan data statistik Ditjen Perkebunan tahun 2018, luas areal tanaman pala di Indonesia 202.325 ha dengan produksi 36.242 ton. Total nilai ekspor tahun 2018 tercatat 20.202 ton, menjadi konsumsi nasional untuk keperluan industri dan rumah tangga.

(Visited 20 times, 1 visits today)