29 December, 2019

Di Indonesia saat ini gula yang beredar di pasar terbagi menjadi tiga yaitu GKP (Gula Kristal Putih) yang diproduksi PG berbasis tebu dan beredar untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga: GKR (Gula Kristal Rafinasi) yang diproduksi oleh PG Rafinasi dengan bahan baku Gula Kristal Mentah (GKM impor); GKM impor untuk memenuhi kebutuhan PG Rafinasi.

“Kebijakan ini sudah berjalan 15 tahun dan tidak menghasilkan kemajuan bagi PG berbahan baku tebu, sedang ketergantungan pada GKM impor semakin besar. Karena itu pemerintah berencana menghapus ketentuan ini dan nanti hanya ada satu SNI dan satu jenis gula saja yang boleh beredar di pasar,” kata Darto Wahab, Asisten Deputi bidang Pangan, Kementerian Perekonomian.

Saat ini pemerintah sedang menyusun rancangan peraturan gula yang boleh beredar di pasaran Icumsa 200-300. Dengan kebijakan ini PG BUMN diminta segera memperbaiki diri sehingga mampu memenuhi gula dengan kualitas seperti itu.

Dalam waktu bersamaan impor GKM akan dibatasi sehingga PG rafinasi diarahkan mengolah tebu. PG-PG BUMN yang tidak mampu menghasikan gula icumsa 200-300 diarahkan menghasilkan GKM untuk memenuhi kebutuahan PG rafinasi.

“Dengan cara ini maka budidaya tebu semakin didorong. Hasil akhirnya diharapkan kesejahteraan petani semakin meningkat. Perubahan sistim dari bagi hasil menjadi beli putus merupakan proses ke arah ini,” katanya.

Kebijakan ini juga mendorong perluasan pasar PG BUMN sehingga bisa memasok kebutuhan industri makanan minuman. Saat ini ada 20 PG BUMN dan beberapa PG swasta sudah mampu menghasilkan gula dengan Icumsa 200-300 tetapi mereka tidak bisa memasok ke industri makanan minuman karena regulasi.

(Visited 97 times, 1 visits today)