28 December, 2020
Bagikan Berita

Jakarta, mediaperkebunan.id – Para penangkar dan petani tebu optimistis pengembangan kebun benih datar (KBD) bisa membantu mensukseskan target swasembada gula yang dicanangkan pemerintah meskipun terdapat sejumlah catatan yang harus menjadi perhatian seluruh pemangku kepentingan. Optimisme ini dilatarbelakangi upaya keras pemerintah dalam melakukan seleksi dan pengujian kualitas benih yang benar-benar ketat.

Ketua Perkumpulan Penangkar Benih Tanaman Perkebunan Indonesia (PPBPTI) Jawa Tengah (Jateng) Yogi Dwi Sungkowo mengungkapkan, “benar-benar selektif, dipilih yang secara kualitas memang bagus sehingga kegiatan pembangunan KBD ini pastinya lebih bagus dan Insya Allah sukses.”

Hal senada diungkapkan, Ketua Kelompok Tani Subur Makmur. Desa Sumberejo, Kabupaten Pati, Jateng, Kamari melalui program KBD ini, para petani tebu bisa memperoleh benih bersertifikat dan bermutu untuk pengembagan kebun tebu giling (KTG) secara cuma- pada tahun depan. Dengan adanya bantuan benih tersebut, pihaknya mengharapkan tak hanya produksi tebu yang merupakan bahan baku utama produksi gula, tetapi juga rendemennya, bisa meningkat.

“Kendati demikian, terdapat sejumlah catatan dari para penangkar dan pelaku industri pabrik gula terkait implementasi program pengembangan kebun benih datar pada 2020,” jelas Kamari.

Kamari pun mengakui program pembangunan KBD dapat mengunggah semangat petani menanam bibit bersertifikat, dan bukan asalan. Pasalnya tahun 2021 mendatang petani akan memperoleh benih bermutu secara cuma-cuma untuk pengembangan kebun tebu giling (KTG).

Petani percaya bahwa bibit yang baik mendapatkan hasil yang baik. Tahun depan mereka sangat bersemangat membangun kebun tebu benih bersertifikat tersebut dan dipastikan hasil kebun akan meningkat.

Sementara itu, Sekretaris PPBPTI Jawa Timur (Jatim), Bambang Setiyawan yang juga perwakilan produsen benih CV Lang Buana dari Jawa Timur mencatat bahwa data calon petani calon lokasi (CPCL) penerima bantuan benih masih berubah-ubah. Jika terus berlanjut, dikhawatirkan hal ini berpotensi menghalangi upaya menuju swasembada gula.

Baca Juga  Kemenperin Pacu Nilai Tambah Kakao

Pasalnya, jika terjadi pengurangan CPCL, maka serapan benih yang disediakan akan berkurang. Hal ini berpotensi menyebabkan kerugian pada penangkar yang sudah menyediakan benih sesuai data awal. Namun, di sisi lain, jika terjadi penambahan data CPCL, dikhawatirkan benih yang tersedia tidak akan cukup sehingga bisa menghambat keberhasilan program ini.

“Paling tidak penangkar atau produsen (benih), sudah pegang data itu sehingga ketersediaan benih yang mau disiapkan itu sesuai permintaan,” kata Bambang.

Meski begitu, Vice General Manager Pabrik Gula Pakis Baru, Ari Sudrajat mengunkapkan, di samping masalah di atas, inovasi serta pengenalan benih varietas baru juga perlu dilakukan.

Contohnya, bahwa saat ini hampir 80% petani di Jateng memanfaatkan benih varietas BL lantaran rendemennya yang memang tinggi. Padahal, varietas ini diketahui sudah terjangkit penyakit Luka Api sehingga sudah seharusnya dilakukan pencarian dan pengenalan varietas baru.

Belum lagi, para petani kerap menjadikan BL sebagai satu satunya varietas untuk ditanam baik pada masa awal, tengah, dan akhir. Hal ini jauh berbeda dengan pola tanam yang dilakukan oleh para petani di bawah bimbingan pabrik gula skala besar.

“Di perkebunan besar, komposisi awal, tengah, [dan] akhir itu benar-benar dijaga. Nggak akan ada tebu masa awal yang ditanam di akhir, mereka benar-benar disiplin sehingga hasilnya juga optimal,” ujar Ari.

Di sisi lain, pengenalan varietas baru pada petani bukanlah urusan gampang. Petani yang telah terbiasa menanam satu jenis bibit tertentu, biasanya sulit untuk berganti dan beralih pada jeis atau varietas baru. Selain faktor kebiasaan, tingginya produksi varietas BL menjadi alasan lain.

Untuk itu, perlu dilakukan pengembangan demplot varietas unggul baru di sentra-sentra tanaman tebu guna memberi contoh bagi para petani.

Baca Juga  Covid-19 Meluas, Wilmar Kucurkan USD 1 Juta

Menanggapi seluruh catatan ini, Ketua PPBPTI Jatim, Kodrat Samadikun menekankan koordinasi yang baik antar pemangku kepentingan menjadi kunci utama untuk mendapatkan data untuk bisa mendapatkan data serta membuat pemetaan yang akurat terkait dua hal di atas.

“Ini melibatkan tidak hanya satu institusi [tetapi] harus semua yang berkepentingan terlibat dan harus memang benar-benar bagaimana membangun sistem yang baik,” ujar Kodrat.

Seperti diketahui, pemerintah mengembangkan 1.667 hektar KBD yang tersebar di Jawa Timur, Jawa tengah, dan Jawa Barat pada 2020 sebagai bagian dari upaya mempercepat tercapainya swasembada gula. Pengembangan KBD ini ditargetkan bisa menghasilkan 600,120 juta benih (mata).

(Visited 70 times, 1 visits today)