25 May, 2020

Salah satu hikmah dari pandemi Covid-19 ini adalah masyarakat di daerah tertentu yang selama ini mengkonsumsi beras kembali ke pangan asalnya. Masyarakat sadar bahwa mereka tidak bisa mengantungkan diri pada pangan yang tidak diproduksi di wilayahnya. Masyarakat Papua dan Maluku misalnya banyak kembali mengkonsumsi sagu. Herman Khaeron, Ketua Masyarakat Perbenihan dan Perbibitan Indonesia menyatakan hal ini.

Ketua Umum Perhimpunan Agronomi Indonesia (Peragi) M Syakir menyatakan tahun 2018 ke 2019 terjadi penurunan produksi padi di 5 sentra utama yaitu Jawa Tengah, Jawa Timur, Jawa Barat, Sumatera Selatan dan Sulawesi Selatan. Sementara laju pertumbuhan penduduk 1,36%/tahun laju pertumbuhan produktivitas padi tahun 2018-2019 minus 1,72% .

Konsumsi pangan yang meningkat adalah beras dan gandum, sedang pangan lokal semakin menurun. Dalam masa pandemi Covid-19 ini terjadi penurunan kapasitas angkutan, perlambatan angkutan dan biaya angkut naik. Rantai pasok pangan mulai terganggu, produsen mengalami turun harga sedang di konsumen malah naik.

Pembatasan mobilitas dan karantina desa berpotensi menganggu penyediaan benih dan pupuk, sehingga masa tanam musim kering bisa terganggu. Pasar beras dunia diperkirakan akan mengalami stok tipis dan harga naik, akibat penurunan ekspor negara-negara eksportir untuk melindungi ketahanan pangan negaranya dan adanya penurunan produksi.

Dalam kondisi seperti ini Indonesia harus berusaha meningkatkan produksi beras dengan intensifikasi dan ekstensifikasi, disertai diversifikasi pangan sumber kabohidrat non beras yaitu jagung, sorgum, ubi jalar, ubi kayu, hanjeli, ganyong, talas, labu kuning, sukun, sagu. Syaratnya harus ada teknologi pasca panen yaitu teknologi entrusi, fermentasi, pengeringan, pengemasan dan teknologi pengolahan lainnya.

Khusus sagu, menurut Unggul Ametung, Kasubdit Pascapanen, Ditjen Pengolahan dan Pemasaran Hasil Perkebunan,Ditjenbun, sentra produksi di Indonesia adalah Papua 155.675 ha dengan produksi 66.593 ton, Riau 73.587 ha produksi 338.726 ton, Maluku 36.478 ha produksi 8.134 ton, Aceh 6.946 ha produksi 1.711 ton, Kalsel 6.511 ha produksi 4.130 ton.

Harga rata-rata sagu basah Januari 2019 adalah Rp5.282 kg sedang Agustus 2019 Rp4.140/kg. Harga sagu kering Januari 2019 Rp12.375/kg sedang Agustus 2019 Rp15.513/kg. Sagu digunakan untuk memenuhi konsumsi karbohidrat juga sebagai bahan baku industri.

Indonesia tahun 2018 mengimpor biji gandum dan meslin 10,1 juta ton dengan nilai USD2,5 juta. Bila 10% saja diganti sagu maka kebutuhannya mencapai 1 juta ton/tahun, atau harus meningkat 2 kali lipat dari produksi sekarang 430.000 ton. Bila harga sagu basah Rp5000/kg maka akan ada uang Rp5 miliar beredar di pedesaan sekaligus menghemat devisa.

Sepanjang tahun 2016-2017 Ditjenbun sudah mengalokasikan 27 unit alat pengolah sagu kepada petani dengan anggaran Rp12,23 miliar lewat kegiatan fasilitasi pengolahan sagu di 5 provinsi tersebar di 13 kabupaten. Sedang tahun 2020 direncanakan fasilitasi pengolahan sagu 4 unit.

Keunggulan sagu berdasarkan hasil penelitian adalah keunggulan dari sisi kesehatan dan ekonomi; salah satu makanan pokok masyarakat Papua dan Maluku; sumber pangan alternatif pengganti beras; sumber energi. Hambatannya adalah petani belum bisa menjual langsung sagu ke industri tetapi harus lewat pedagang perantara; jumlah industri yang mengolah sagu masih terbatas; petani sagu masih terbatas aksesnya pada informasi, modal dan fasilitas.

(Visited 104 times, 1 visits today)