28 January, 2016

Selama ini petani selalu disalahkan jika terjadi kebakaran khususnya petani perkebunan. Padahal jika melihat dilapangan lahan yang terbakar adalah lahan terlantar bukanlah lahan perkebunan.

Memang dengan melonjaknya harga pangan atau kebutuhan hidup membuat masyarakat terus merasa gelisah. Apalagi saat ini harga-harga hasil pertanian juga mengalami penuruanan. Bahkan komoditas karet yang dahulu menjadi tanaman andalan masyarakat Palangkaraya, Kalimantan Tengah kini tidak lagi.

Hal ini karena harga karet mengalami penurunan yang cukup tajam dan sulit untuk meningkat dan belum ada tanda-tanda adanya kenaikan harga pada komoditas karet. Namun hal tersebut berbeda pada komoditas kelapa sawit. meskipun harganya sempat mengalami penurunan tapi di minggu terakhir bulan Oktober ini sedikit demi sedikit mengalami kenaikan.

“Jadi menurunnya harga karet maka sebagian masyarakat disini mulai beralih ke tanaman kelapa sawit. Hal ini karena tanaman kelapa sawit harganya kembali naik. Maka sebagian masyarakat disini mulai beralih ke tanaman kelapa sawit,” jelas Rudi Kepala Rumah Tangga Kelurahan Tumbang Tahai Kecamatan Bukit Batu, Palangkaraya Kalimantan Tengah (Kalteng) ketika ditemui di rumahnya.

Lebih dari itu, menurut Rudi, berkebun kelapa sawit selain harganya sudah kembali naik juga mudah untuk dijual hasil panennya. Hal ini karena jumlah pabrik kelapa sawit (PKS) di wilayah Kalimantan Tengah khususnya Palangkaraya jumlahnya sudah cukup banyak.

Sehingga masyarakat tidak perlu merasa bingung untuk menjual hasil panennya. Terlebih saat ini dalam industri kelapa sawit terdapat sistem kemitraan sehingga petani akan lebih mudah lagi dalam menjual hasil panen.

“Maka dengan mudahnya menjual hasil panen banyak petani yang lebih senang menanam kelapa sawit. karena dengan mudah menjual maka petani lebih mudah untuk mendapatkan uang,” terang Rudi ayah beranak tiga.

Namun, menurut pria berumur 40 ini untuk menanam kelapa sawit tidak sekedar menanam. Tapi juga memperhatikan pengelolaannya. Diantaranya yaitu dengan membuat parit yang mengelilingi luas areal perkebunan kelapa sawit.

Adapun ukuran parit tersebut yaitu lebar 2,5 meter dan kedalam 3 meter, adapu panjangnya mengelilingi luas areal tanaman kelapa sawit tersebut. Sedangkan dibuatnya parit yang mengeliling kebun tersebut adalah untuk mengurangi kadar asam yang terkandung dalam lahan tersebut. Mengingat sebagian lahan di Kalimantan Tengah ini adalah lahan gambut.

“lalu, agar bisa mendapatkan hasil yang maksimal maka kami membuat parit yang mengelilingi kebun kami. Adapun parit tersebut kita buat tidak lain adalah untuk mengurangi kadar asam yang terkandng dalam lahan yang akan kami tanam,” urai Rudi yang juga sebagai anggota Manggala Aigni (tim pemadam Kebakaran). YIN

Baca juga : Jangan Mengkambing Hitamkan Petani (Bagian 2)

(Visited 79 times, 1 visits today)