10 May, 2020

Realisasi peremajaan yang rendah yaitu yaitu 10-18% akan berdampak pada waktu peremajaan yang lebih lama yaitu 5-10 lipat dari target dan semakin banyak kebun yang produktivitasnya menurun karena semakin tua, sehingga produktivitas nasional bisa turun. I Ketut Ardana, peneliti Pusat Penelitian Perkebunan, Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian menyatakan hal ini.

Salah satu penyebabnya adalah PSR dilaksanakan ketika harga sawit sedang berflukuatif bahkan harga TBS pernah mencapai Rp650/kg ditambah ketidakpastian pasar akibat rencana Eropa melarang penggunanaan sawit untuk biodiesel. Kondisi ini menyebabkan partisipasi petani rendah.

“Karena itu tantangannya adalah bagaimana meyakinkan petani bahwa PSR akan memberikan dampak positif bagi mereka. Harus ada inovasi teknologi,” katanya.

Inovasi itu adalah pemilihan tanaman sela untuk intercroping. Tanaman sela diharapkan memberikan pendapatan bagi petani selama masa TM sekaligus meningkatkan pertumbuhan kelapa sawit.

Jenis tanaman sela harus bukan kompetitor kelapa sawit, tidak menngurangi populasi sawit, bukan inang organisme penganggu sawit dan mudah dibudidayakan oleh petani dan bernilai ekonomi. Petani sawit belum terbiasa membudidayakan tanaman pangan sehingga untuk percepatan inovasi perlu memasukan komponen benih dan pupuk dalam dana PSR dan mengefektifkan penyuluhan budidaya tanaman pangan bagi petani

(Visited 39 times, 1 visits today)