23 July, 2020

Tembakau di Indonesia berkembang di Pulau Jawa, Sumatera, Sulawesi, Lombok, Bali, Nusa Tenggara , Nusa Tenggara Timur. Di budidayakan di 15 provinsi dengan luas 209.854 ha dan produksi 183.846 ha. Djajadi, peneliti utama tembakau, Balai Penelitian Tanaman Serat dan Pemanis , Puslitbun. menyatakan hal ini.

Di ASEAN negara lain yang menghasilkan tembakau adalah Kamboja, Malaysia, Filipina, Thailand dan Vietnam. Indonesia paling luas lahan dan produksinya tetapi paling rendah produktivitasnya hanya 0,63 ton/ha sedang paling tinggi Filipina dengan produktivitas 2,07 ton/ha dan Thailand 2,2 ton/ha. Produktivitas mereka tinggi karena inovasi teknologi budidaya.

Tembakau merupakan sumber pendapatan utama petani di sentra-sentra produksi. Di Bondowoso keuntungan petani tembakau adalah Rp 12,4 juta/ha, di Temanggung Rp22 juta/ha. Di Sampang 83% pendapatan lahan sawah dari tembakau, lahan tegal 73% dan gunung 63%.

Tembakau melalui industri rokok memberi pendapatan yang cukup besar bagai negara. Indonesia saat ini masih mengimpor tembakau yaitu dari China, Brasil dan Zimbawe. Rata-rata impor tembakau tahun 2011-2018 adalah 156.622 ton/tahun dan nilai impor USD570, 67 juta/tahun.

Tembakau saat ini dikenal sebagai penghasil nikotin penyebab kanker dan gangguan jantung. Di masa depan perlu dieksploitasi lagi zat lain yang ada pada tembakau yaitu cembranoid yang mempunyai kemampuan anti kanker, anti virus, obat penyakit parkinson dan obat penurunan daya generatif.

Saat ini Balittas berusaha melakukan inovasi teknologi budidaya untuk kelestarian lahan, peningkatan produksi dan mutu. Tembakau saat ini diusahakan intensif pada lahan yang sama juga banyak yang ditanam pada lahan miring.

Lahan tembakau terdegradasi karena pengelolaan hara yang tidak tepat yaitu penggunaan pupuk N yang berlebihan, urea dilarutkan dalam air penyiraman. Struktur tanah mengeras, C organik dalam tanah sangat rendah dan akumulasi patogen dalam tanah. Akibatnya kematian tanam diatas 80%, biaya produksi mahal dan bisa gagal panen.

Penggunaan pupuk tunggal yaitu urea atau ZA dengan dosis berlebihan, frekuensi pemberian sampai lima kali baik ditabur dan dilarutkan dalam air penyiraman, dengan pupuk mengandung klor membuat produksi dan mutu tembakau rendah.Survei pemetaan kesesuaian lahan dan analisa usaha tani di sentra-sentra produksi tembakau menunjukkan kadar C organik, N, P, K tergolong kategori rendah dan sangat rendah.

Upaya mengatasinya adalah dengan inovasi teknologi konservasi lahan tembakau. Tembakau yang ditanam pada lahan berbukit dibuat dengan sistim teras dengan penanaman setaria pada bibir teras dan flemingia pada bidang vertikal teras dan pembuatan rorak. Dengan teknik ini erosi tinggal 16,67% sedang pada kontrol 30,22%.

Pada lahan tanpa teknik konservasi C yang hilang 201 kg/ha, N 148 kg/ha, P 0,2 kg/ha dan K 189 kg/ha. Sedang lahan dengan teknis konservasi , C yang hilang 106 kg/ha, N 63 kg/ha, P 0,1 kg/ha dan K 153 kg/ha. Jumlah kematian tanaman dengan teknik konservasi 8,14% sedang kontrol 15,26%. Hasil rajangan tembakau kering dilahan konservasi 442 kg/ha sedang kontrol 311 kg.

Inovasi lainnya adalah teknologi pengelolaan hara untuk tembakau Cerutu Basuki NO dosis 250 kg NPK + 100 kg urea + 150 kg KS + 100 kg KNO3 , frekuensi pemupukan 3 kali, produksi 2,5 ton/ha dan indeks tanaman 69,75. Tembakau Temanggung dosis 22,5 ton vermikompos + 500 kg NPK + 200 kg KNO3 + 300 ZA, produksi 438 kg/ha, indeks mutu 66,54 dan indeks tanaman 292,869. Tembakau Virginia di Lombok dosis 100 kg + 60 kg P205 + 133 kg K2O + 13,3 kg MgO per ha, produktivitas varietas Coker 176 2,093 ton/ha, cooker 319 1,352 kg, NC 297 2,050 kg.

(Visited 42 times, 1 visits today)