29 January, 2020

Jakarta, perkebunannews.com – Industri kopi yang terus booming saat ini, membuka kesempatan berusaha dengan mendirikan bisnis kopi. Apalagi di Indonesia memang kental dengan budaya minum kopi yang telah mengakar.

Guna menjaring peluang ini, Kementerian Koperasi dan UKM pun menggandeng komunitas Dewan Kopi, Asosiasi Duta Indonesia (ADI) fan Coffee Lovers Indonesia (CLI) dengan memberikan pelatihan Manual Brew kepada pegawai di lingkungan Kemenkop dan UKM.

Dalam sambutannya, Sekretaris Menkop dan UKM Rully Indrawan mengatakan, di Indonesia, konsumsi kopi sangatlah tinggi. Apalagi dikalangan anak muda, sepertinya sudah menjadi gaya hidup (lifestyle).
“Sekarang minum kopi sangat nyaman, tersedia banyak kedai kopi di mana-mana. Kopi bukan lagi hanya sebagai komoditi, tapi juga membuka ladang bisnis,” kata Rully saat membuka pelatihan Manual Brew di kantor Kemenkop dan UKM, Jakarta.

Rully menegaskan, kopi merupakan bagian dari budaya masyarakat Indonesia, namun dari sisi industri katanya, terjadi persoalan, seperti banyaknya persaingan di bisnis kopi hingga penurunan ekspor. Di 2019 lalu kata Rully, ekspor kopi pun sempat mengalami penurunan.

“Kita harus menggenjot bagaimana kopi menjadi unggulan. Di Jawa Barat dulu pernah ada komunitas kopi, awalnya berkembang bagus saat ini mengalami stagnan, karena mungkin orientasinya sudah berbeda,” kata Rully.

Saat ini komunitas kopi pun sudah banyak bahkan yang profesional. “Jadi saya berpesan, seraplah ilmu yang banyak, supaya saat membuka bisnis kopi, bisa menghasilkan kualitas kopi yang lebih baik dan berkualitas,” ucap Rully.

Di kesempatan yang sama, Founder CLI sekaligus Bendahara Umum Dewan Kopi Lisa Ayodhya menceritakan, bisnis kopi untuk UMKM ini memang tidaklah serumit bisnis-bisnis yang lain. Namun kata dia, para pelaku UMKM kopi perlu juga dilakukan pencerahan melalui pelatihan bagaimana membuat kopi yang baik.

“Seperti misalnya kami sering juga beri pelatihan dengan para pedagang kopi keliling (Starbike). Jangan hanya jual kopi saja, tapi juga membuat kopi yang baik,” imbuh Lisa.

Bahkan, menurut Lisa untuk membuka usaha kopi tidaklah harus dimulai dengan modal yang besar. Semua itu bisa dimulai dengan bisnis kopi yang sederhana. “Peluang bisnis bisa diciptakan dengan mudah. Pengusaha kecil dengan buka kedai kopi di depan rumah juga bisa,” tutur Lisa.

Diakui Lisa, pesat perkembangan bisnis kopi ini memang tak bisa dibantah. Bukan hanya kopi yang benar-benar pengolahan kopi murni hingga bisnis kopi kekinian. Ia pun optimistis pertumbuhan bisnis kopi ini trennya akan terus naik.

Naik Peringkat
Tapi di satu sisi kata Lisa, di tengah boomingnya industri kopi, justru perkembangan hulu kopi Indonesia masih kalah dengan negara lain seperti Brazil, Columbia dan Vietnam. Saat ini, kopi Indonesia masih berada di posisi ke empat.

“Kenapa kopi Brazil dan Vietnam itu bagus, karena biji kopi mereka konsisten dari sisi rasanya. Nah kalau di kita, kadang masih asam kadang enak, jadi belum stabil,” ujar Lisa.

Bahkan di China dan Korea saja, yang basisnya bukan negara peminum kopi, mampu menciptakan varian kopi. “Tapi saya optimis, tahun 2020 kopi Indonesia naik ke posisi 3 dunia. Karena kalau dari segi kualitas sangat unggul,” tegas Lisa.

Sehingga, Lisa mengatakan bersama bantuan dari Kemenkop dan UKM dan lintas kementerian lainnya, pelaku usaha berencana ingin membranding kopi lokal dengan brand Kopi Nusantara. Karena selama ini hanya daerah saja yang unggul. “Nanti kita buat merek Kopi Nusantara, baru di bawahnya kopi Toraja, Lampung dan lain-lain,” tutur Lisa.

Hadir di kesempatan yang sama, Head of Corporate Communication Kapal Api Global Pangesti Bernadus menuturkan, sebagai industri besar di produk kopi. Pihaknya rajin memberikan pelatihan kepada pelaku usaha kopi.

Saat ini pihaknya memiliki sekitar 20 kedai kopi bertajuk Urban Latte yang tersebar di dua kota yaitu Jakarta dan Surabaya. Pihaknya membantu siapa pun yang ingin memiliki usaha kopi dengan membuka kedai.

“Ada juga yang lebih kecil itu Kapal Api Corner seperti yang ada di Stasiun Tanah Abang, siapa pun mau buka usaha bisa. Nggak perlu besar yang penting mudah dijalankan,” kata Pangesti. YIN