10 May, 2016

Ikagi Siap Mendukung Swasembada Gula

Ikatan Ahli Gula Indonesia (Ikagi) menggelar kongres ke-XI di Surabaya pada Rabu (4/5). Dalam kongres tersebut Ikagi berkomitmen untuk mendukung swasembada gula.

Direktur Utama PT Perkebunan Nusantra (PTPN) X Subiyono dalam kongres ke-XI mengatakan bahwa dalam mendukung swasembada gula maka keterampilan, dan teknologi perlu harus dilakukan baik dalam spek teknis maupun nonteknis.

Kemudian dalam mewujudkan swasembada gula gula yang menjadi garis kebijakan pemerintahan harus di dorong. Satu diantaranya perluasan areal tanaman tebu, kemudian revitalisasi pabrik gula (PG). Hal ini perlu dilakukan mengingat PG yang ada saat ini kondisinya sudah cukup tua.

“Maka dalam hal ini kongres ke-XI ini pas momentumnya dengan digenjotnya target produksi gula nasional untuk mewujudkan swasembada gula yang menjadi garis kebijakan pemerintahan Joko Widodo. Dengan kongres ini, kita semua ingin berkontribusi dalam upaya mendorong produktivitas industri gula nasional,” jelas Subiyono yang juga mantan Ketua Umum Ikagi.

Dalam kongres yang betemakan “Pemberdayaan SDM & Teknologi dalam Meningkatkan Daya Saing Industri Gula Nasional” Subiyono menambahkan bahwa mengingat pentingnya daya saing industri gula nasional maka tidak heran jika yang hadir mencapai 400 orang ahli gula.

Selain itu, sejumlah ahli gula dari 3 negara penghasil gula juga turut menghadiri kongre ke-XI Ikagi yaitu Brazil, Thailand, dan India. Ketiga negara tersebut hadir untuk memberikan informasi terkait inovasi teknologi dunia yang bisa diterapkan di Indonesia.

Seperti diketahui berdasarkan perhitungan Ikagi bahwa saat ini konsumsi gula di Indonesia sudah mencapai 5,8 juta ton per tahun. Dari angka tersebut, di mana 3 juta ton di antaranya adalah konsumsi gula kristal putih (GKP) untuk kebutuhan rumah tangga. Sedangkan sisanya sebanyak 2,8 juta ton berupa gula Kristal rafinasi (GKR) untuk dikonsumsi industri, terutama industri makanan dan minuman (mamin).

“Namun, sangat disayangkan bahwa produksi gula kita baru sekitar 2,5 juta ton. Ini menjadi tugas bersama untuk mengerek produksi hingga 3,2 juta ton sesuai target swasembada gula untuk kebutuhan rumah tangga,” himbau Subiyono.

Melihat hal ini, Subiyono berharap ada transformasi industri gula mutlak dibutuhkan untuk mencapai tujuan swasembada. Sebab berdasarkan pengalaman beberapa tahun terakhir, daya saing perusahaan gula BUMN dengan indikator harga pokok produksi (HPP) masih sangat tinggi.

Hal itu karena, dimana sebesar 45% dari HPP tersebut adalah biaya Sumber Daya Manusia (SDM), mengingat mayoritas pabrik gula dari sisi teknologi masih berkonsep padat karya. Untuk itu sebagai bentuk pembaruan industri gula, di beberapa pabrik gula telah dilakukan program elektrifikasi dan otomatisasi tanpa mengesampingkan tenaga kerja yang ada.

“Sehingga, relevan jika Ikagi mengangkat topik SDM dan teknologi sebagai fokus kongres kali ini,” ucap Subiyono.

Artinya, Subiyono berharap, melalui Kongres ke-XI ini bisa membangun daya saing dalam industri gula. Sebab dalam hal ini dibutuhkan perubahan cara pandang bisnis, yakni sebagai sumber pangan dan energi. Adapun dari aspek budidaya di lahan (on farm), Pusat Penelitian Perkebunan Gula Indonesia (P3GI) terus menciptakan varietas tebu unggul.

“Salah satu proses perakitan varietas tebu unggul yang sedang dicoba adalah melalui introduksi varietas tebu luar negeri, karena pada dasarnya introduksi varietas tebu unggul bertujuan untuk mengganti varietaslama dengan varietas baru yang berguna bagi program pemuliaan tebu. Bila ditinjau dari segi waktu dan biaya, pun lebih cepat dan murah,” tutur Subiyono.

Lalu, Subiyono menambahkan, dari segi aspek pengolahan pabrik (off farm), restrukturisasi & revitalisasi dilakukan olehpabrik gula, dimana anggota Ikagi terlibat langsung di dalamnya. “Strategi revitalisasi telah selesai disusun dan didorong ke arah otomatisasi, elektrifikasi, dan hilirisasi,” tutur Subiyono.

Sementara itu, Sekjen Ikagi Aris Toharisman menambahkan, industri gula juga membutuhkan dukungan pemerintah, berupa regulasi sebagai instrumen kebijakan nasional. “Terutama untuk kebijakan terkait hilirisasi produk tebu non-gula berupa bioetanol dari tetes tebu dan listrik berbasis ampas tebu,” pungkas Aris. YIN

(Visited 101 times, 1 visits today)