24 January, 2020

ICC (International Coconut Community) akan bekerjasama dengan semua stakeholder baik pemerintah, swasta, lembaga penelitian dan semua pihak untuk mengatasi permasalahan kelapa di negara-negara anggotanya. Jelfina C Alouw, Direktur Eksekutif ICC menyatakan hal ini dalam acara farewell dan welcome the outgoing and new ICC Executive Director ICC.

Setelah 40 tahun berdiri, baru pertama kali Direktur Eksekutif ICC dipegang oleh orang Indonesia, meskipun sekretariatnya berada di Indonesia. Selain itu juga baru pertama kali seorang perempuan menjadi direktur eksekutif.

Jelfina, Doktor jebolan University of Nebraska Lincoln USA ini sebelumnya merupakan Kepala Bagian Kerjasama dan Pendayagunaan Hasil Penelitian, Pusat Penelitian Perkebunan, Balitbangtan, setelah lama berkiprah di Balai Penelitian Palma. Pakar Pengendalian Hama Terpadu ini tidak asing dengan kegiatan internasional seperti pembicara pada the 47th APCC COCOTECH Conference di Bali, pada tahun 2016, dan the 48th APCC COCOTECH Conference di Bangkok, Thailand pada tahun 2018.

Pada tahun 2017 Alouw diundang oleh pemerintah Fiji melalui kedutaan Fiji di Jakarta, bekerjasama dengan Kementerian Pertanian Fiji dan International Coconut Community (ICC) untuk memberikan Technical Assistance dalam pengendalian hama CRB di Fiji. Setahun kemudian (2018), Alouw diundang oleh Kementerian Pertanian dan Perikanan Samoa bekerjasama dengan ICC dan The Pacific Community (SPC), untuk memberikan pelatihan pengendalian hama CRB kepada staf peneliti, teknisi dan petugas lapang serta industri kelapa di negara tersebut.

Tantangan yang harus dihadapi sebagamana pesan Direktur Eksekutif sebelumnya Uron N Salum adalah menambah jumlah anggota. Di Era Salum aggota bertambah dari 16 negara menjadi 20 negara, kedepan diharapkan jadi 35 negara dengan menggandeng negara-negara penghasil kelapa di Afrika dan Amerika Latin.

Tantangan global yang dihadapi semua produsen kelapa adalah bagaimana meningkatkan kualitas hidup petani, peningkatan aspek teknologi, rantai pasok yang belum menguntungkan semua pihak, terbatasnya produk jadi dan kualitas.

“Kita akan bekerjasama dengan semua pihak mulai dari petani, pemeritah, swasta, lembaga-lembaga donor untuk mengatasi semua masalah tersebut. Kelapa di banyak negara sedang banyak mendapat perhatian dari pemerintah dan swasta untuk memenuhi permintaan baik food maupun non food,” kata Jelfina.

Avtur dari minyak kelapa diharapkan dapat meningkatkan harga kelapa. Untuk memenuhi permintaan yang semakin meningkat maka perlu varietas-varietas baru yang produktivitasya tinggi. The International Coconut Genetic Resources Network (COGENT) yang sekarang koordinasinya berada dibawah ICC akan dimanfaatkan untuk menghasilkan kelapa unggul.

(Visited 30 times, 1 visits today)