7 June, 2020

Sebelum pandemi covid19 pun, sektor hulu kopi Indonesia sudah bermasalah yaitu produktivitas yang sangat rendah, hanya 25% dari potensi produksinya, yaitu baru mencapai sekitar 600-700 kg/ha/tahun. Padahal Vietnam sudah lama bisa mencapai produktivitas 2,5 ton. Misnawi Ketua Dewan Pakar di Pusat Penelitian Kopi dan Kakao Indonesia menyatakan hal ini.

Petani yang punya kebun 1 ha di Jawa dan Sumatera kalau monokultur untuk bisa hidup layak harus menghasilkan setidaknya 2 ton/ha. Kalau hanya 500-600 kg dengan menanam kopi arabika sekalipun maka penghasilan kotor pertahunnya tidak jauh dari Rp25 juta, apalagi kalau mereka petani kopi robusta. Dengan kondisi seperti ini maka untuk hidup saja berat apalagi merawat kebun kopi.

Apalagi untuk membiayai anak-anaknya ke sekolah dan memenuhi kebutuhan-kebutuhan keluarga lainnya. Akibatnya produktivitas kebun akan semakin menurun, karena mereka akan mencoba untuk mencari penghasilan lainnya. Tidak jarang kebunnya malah ditinggalkan.

Petani kopi perlu dididik dengan cara pandang agribisnis bukan hanya sekedar bertani. Harus dihitung usaha taninya sehingga hasil per ha menjadi optimal. Produktivitas-profotabilitas lahan harus menjadi focus untuk keberlanjutan usaha taninya.

Karena itu, Puslitkoka saat ini konsepnya bukan sekedar memacu produktivitas kopi tetapi lebih kepada profit lahan. Pada lahan selain ditanami kopi juga diversifikasi tanaman lain seperti lada dan kayu maupun tanaman sela semusim. Petani bukan lagi sekedar produsen tetapi pebisnis.

Bantuan untuk petani harus tepat sasaran yaitu pupuk. Saat ini pupuk tidak mudah didapat baik pupuk organik maupun pupuk formula khusus kopi. Pemerintah perlu membangun sarana dan prasarana yaitu irigasi dan jalan.

Salah satu kunci sukses Vietnam adalah dibangunnya banyak embung besar di sentra-sentra kopi yang memanen air pada musim hujan dan digunakan pada musim kemarau. Hal ini membuat pembuahan kopi di Vietnam serempak.

Selain itu jalan dibangun sampai ke kebun sehingga cherry mudah keluar. Di Indonesia, untuk kopi Gayo yang sudah sangat terkenal dan harganya mahal akses ke kebun kopi masih harus menggunakan motor trail dan berganti kuda karena sulit.

Selain itu petani harus mampu menghasilkan kopi berkualitas, sebab ini sangat menentukan harga. Harga kopi yang merupakan nilai instristik hanya 20% sisanya 80% berupa promosi dan publisitas.

Sekarang masalahnya bagaimana supaya kopi yang ada dipetani ini bisa memasuki pasar kembali. Festival-festival yang mengangkat harga kopi perlu diadakan kembali. Kondisi pasar sendiri bagi Misnawi masih sangat optimistis.

Data ICO menunjukkan harga kopi Maret normal, kemudian turun akibat pandemi Covid pada April tetapi Mei sudah kembali normal. Bahkan harga Mei 2020 masih lebih tinggi dibanding Mei 2019. Lembaga Sertifikasi Puslitkoka juga tidak ada penurunan, tetapi karena tidak bisa melakukan kunjungan ke lapangan banyak permintaan sertifikasi bagi pembeli luar negeri tidak bisa dipenuhi.

(Visited 310 times, 1 visits today)