8 January, 2020

JAKARTA, Perkebunannews.com – Harga tandan buah sawit (TBS) naik tajam akhir-akhir ini. Bahkan kenaikannya yang mencapai Rp 2.200 per kilogram (Kg) tertinggi sejak 2017. Namun kanaikan harga TBS ternyata tidak sepenuhnya dinaikmati petani. Karena stok TBS tidak ada.

Sekretaris Jenderal Persatuan Organisasi Petani Sawit Indonesia (Popsi) Pahala Sibuea mengakui, kenaikan harga TBS awal 2020 ini memang terbilang tinggi dibanding tahun sebelumnya. “Tapi tidak semua petani sawit menikmati kenaikan harga TBS karena produksi TBS turun sehingga stoknya berkurang,” ujarnya kepada Perkebunannews.com, Rabu (8/1).

Pahala mengatakan, sejak harga TBS turun pada 2018 lalu petani tidak melakukan pemupukan sehingga hal berakibat turunnya produksi. Apalagi ditambah musim kering pada 2019 dan asap kebakaran hutan dan lahan. Akibatnya produksi TBS tambah menurun lagi.

“Sekarang kalau harga TBS naik sampai 2000 rupiah per kilogramnya, petani tidak sepenuhnya menikmati kenaikan itu. Karena stok TBS juga sedikit, bahkan di beberapa daerah tidak ada stok TBS,” jelas Pahala yang juga salah satu Ketua DPP Sawitku Masa Depanku (Samade).

Sekalipun, lanjut Pahala, ada sebagian petani yang menikmati kenaikan harga TBS itu pun paling 20 persen dari petani sawit yang ada. “Karena ada petani yang walau pun disaat harga TBS turun, mereka tetap merawat dan memupuk tanamannya,” katanya. (YR)

(Visited 18 times, 1 visits today)