2nd T-POMI
2024, 23 Februari
Share berita:

Jakarta, mediaperkebunan.id – Kementerian Perdagangan melalui siaran pers periode Februari 2024 menyampaikan bahwa Harga Referensi (HR) biji kakao meningkat pada bulan Ferbruari 2024 sebesar USD 4.345,70 per metrik ton. Harga tersebut meningkat dibandingkan bulan sebelumnya sebesar 2,71%  atau setara dengan USD 114,73.

Peningkatan biji kakao berdampak pada peningkatan Harga Patokan Ekspor (HPE) biji kakao di bulan Februari 2024 menjadi USD 4.012 per metrik ton. Hal ini meningkat sebesar 2,87% atau setara dengan USD 112 dari periode sebelumnya. Penetapan HPE biji kakao ini ditetapkan melalui Kepmendag Nomor 141 tahun 2024 tentang Harga Patokan Ekspor dan Harga Referensi Atas Produk Pertanian dan Kehutanan yang Dikenakan BEA Keluar.

Walaupun terjadi kenaikan harga, namun hal ini tidak berdampak pada Besaran Kompensasi (BK) biji kakao yang tetap sebesar 15%. Jumlah persenan terebut sesuai pada Kolom 4 Lampiran Huruf B pada Peraturan Menteri Keuangan Nomor 39/PMK/0.10/2022 jo. Nomor 71 tahun 2023.

Peningkatan HR dan HPE biji kakao salah satunya dipengaruhi dengan adanya permintaan yang meningkat namun tidak diiringi dengan peningkatan produksi pada negara produsen di wilayah Afrika seperti Nigeria dan Pantai Gading. Berkurangnya produksi biji kakao disebabkan oleh adanya penyakit tanaman dan dampak dari fenomena El Nino.

Fenomena El Nino di dunia diprediksi akan berlangsung pada bulan Januari hingga Maret  2024. Fenomena cuaca ini terjadi akibat suhu yang meningkat pada permukaan air di samudera pasifik timur dan tengah. Hal tersebut berdampak kepada perubahan pola cuaca global yang mempunyai dampak yang signifikan pada iklim di berbagai wilayah dunia.

Dampak cuaca akan terjadi semakin sering dan intensif sehingga akan sangat mempengaruhi jumlah lahan yang subur untuk budi daya kakao. Selain itu, perubahan suhu yang lebih panas dan pola curah hujan akan meningkatkan penyebaran hama dan penyakit.. Hal ini kemudian akan menyebabkan kegagalan panen dan penurunan kualitas hasil panen biji kakao. 

Baca Juga:  Harga Indikasi Karet di Kalimantan Timur Naik 1,64 Persen

Penurunan hasil produksi biji kakao akan mengakibatkan gangguan ekonomi pada daerah penghasil biji kakao. Petani akan mengalami risiko kenaikan harga bahan baku dan berdampak pada peningkatan biaya overhead. 

Untuk menanggulangi hal tersebut maka harus dilakukan upaya mitigasi dan adaptasi pertanian untuk mengatasi ancaman iklim. Adaptasi ini meliputi penyesuaian proses untuk meminimalkan kerusakan yang disebabkan perubahan iklim. Sedangkan mitigasi dilakukan dengan mengurangi emisi gas rumah kaca.