16 January, 2020

SOLOK, Perkebunannews.com – Menyusul harga minyak atsiri yang masih anjlok, petani serai wangi di Solok mencari trik agar tetap hidup. Salah satunya melakukan tumpang sari serai wangi dengan jagung dan manggis.

Djunuardi salah satunya. Di sela-sela kebun serai wangi ditanam jagung. Upaya ini bisa dilaksanakan dua periode/musim tanam jagung. “Karena rumpun serainya masih kecil, tapi untuk panen perdana serai wangi terlambat menjadi umur 8 bulan karena dua periode jagung waktunya 8 bulan,” ujar kepada Perkebunannews.com.

Menurut Edi, panggilan akrabnya, tumpang sari jagung menguntungkan. Karena seluruh modal usaha kebun serai wangi dapat kembali dari panen jagung. “Malahan serai wanginya belum panen, tapi modal kembali dari jagung dan ada untung lagi. Alhamdulillah,” ujar Ketua Kelompok Tani Agribisnis Atsiri Kota Solok itu.

Edi menyebutkan, jagung bisa dipanen berumur 4 bulan, sehingga jika jagung ditanam dua periode yakni 8 bulan. Sedangkan serai panen dapat dipanan perdananya saat tanaman berumur 6 bulan.

Selain itu, Edi juga melakuan tumpang sari serai wangi dengan manggis di lahan kebunnya seluas 2 hektar itu. Namun belum terlihat untungnya karena manggis baru ditanam 25 November 2019 lalu. Sedangkan manggis baru dapat dipanen saat tanaman berumur sekitar 5 tahun.

“Inilah cara kami menghadapi harga minyak atsiri yang masih jatuh. Saat ini harganya 160 ribu per kilogramnya,” tukas Edi. (YR)

(Visited 102 times, 1 visits today)