18 July, 2020

Situasi ekspor kopi tahun 2020 pada kuartal pertama ketika Indonesia belum kena pandemi tetapi negara Eropa sudah terkena, banyak ekspor direscheduling. Kuartal ke 2 Indonesia sudah kena tetapi Eropa sudah reda, semua yang direscheduling diminta untuk dikirim.

“Masalahnya pengiriman kita rata-rata transhipment. Sebelum pandemi biasanya dalam satu minggu ada 2-3 kali shiping transhipment sekarang tinggal seminggu sekali. Akibatnya pengiriman terlambat. Kuartal 3 permintaan buyer Amerika dan Eropa tinggi sekal. Kopi akan dikapalkan akhir kuartal 3 dan 4. Diperkirakan tahun 2020 ekspor kopi akan naik 10-15% ” kata Hutama Sughandi, ketua Umum GAEKI (Gabungan Eksportir Kopi Indonesia) menyatakan hal ini dalam webinar seri #1 Forum Diskusi Kopi “Membangkitkan Industri Kopi Dalam Rangka Pemulihan Ekonomi Rakyat di Era New Normal” yang diselenggarakan Media Perkebunan.

Kuartal 1 ekspor kopi tidak banyak, kuartal 2 mulai kelihatan dan kuartal 3 sangat menggembirakan. Hanya mereka tidak lagi minta kopi high grade tetapi medium grade. “Kita maklum sebab kopi high grade digunakan di kafe-kafe yang banyak ditutup. Permintaan kopi jenis ini turun sampai 50%. Permintaan high grade memang selama ini tidak banyak karena harganya mahal,” katanya.

Kopi medium grade digunakan untuk industri olahan dan dijual di supermaket. Pandemi mengubah kebiasaan minum kopi orang Amerika dan Eropa yang biasa di kafe sekarang membuat sendiri di rumah. Supermarket di sana sampai kehabisan kopi, rak-rak penjualan kopi sampai kosong.

Permintaan yang biasa grade 6 sekarang maksimum grade 4 untuk robusta. Kenaikan permintaan kopi jenis ini sampai 150%. Sampai akhir tahun diperkirakan volume dan nilainya ekspor kopi akan naik 10-15%.

Problem utama kopi Indonesia adalah produktivitas yang rendah. Tahun ini untungnya cuaca bersahabat sehingga tidak mengganggu produksi. Produksi tetap normal dalam posisi produktivitas rendah.

“Tugas kita bersama saat ini adalah meningkatkan produktivitas. Kopi Indonesia sudah dikenal dunia 300 tahun dan tidak akan hilang. Berapapun yang kita produksi akan habis,” kata Sughandi.

Masalahnya harga tertekan karena Vietnam dan Brazil kelebihan produksi. Permainan di bursa komoditas London dan New York menekan harga kopi rendah sekali. “Kopi Indonesia yang kuantitasnya terbatas dan kualitasnya tinggi tekanan harganya tidak terlalu besar. Kita masih bisa menerima penurunan harga ini karena, tidak sama dengan harga bursa yang rendah sekali,” katanya.

(Visited 180 times, 1 visits today)