12 May, 2017

Bulan Maret ini, bulan yang cukup cukup mengejutkan. Sebab ekspor ke negara-negara Uni Eropa masih meningkat meskipun pada pertengahan Maret lalu Parlemen Uni Eropa mengeluarkan Resolusi soal sawit.

Hal tersebut diungkapkan oleh Direktur Ekskutif Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI) dalam keterangan tertulis yang dikirimkan ke redaksi perkebunannews.

Jadi pada pertengahan Maret lalu Parlemen Uni Eropa mengeluarkan Resolusi soal sawit dan pelarangan biodiesel berbasis sawit karena sawit dinilai sebagai penyebab deforestasi, korupsi, pekerja anak dan pelanggaran HAM, tapi ekspor ke negara Eropa masih ada peningkatan.

Berdasarkan catatannya, ekspor minyak sawit Indonesia ke negara-negara Uni Eropa mencatatkan kenaikan sebesar 27% atau dari 352,02 ribu ton di Februari meningkat menjadi 446,92 ribu ton pada Maret 2017 ini.

“Naiknya ekspor ke negara-negara Eropa menunjukkan bahwa negara-negara ini tetap membutuhkan minyak sawit karena dalam beberapa proses produksi di industri terutama untuk produk-produk yang digunakan dalam rumah tangga sehari-hari yang masih sangat menggantungkan pada minyak sawit. hal ini karena harganya yang murah dibandingkan jika menggantikan dengan sumber dari minyak nabati lain,” papar Fadhil.

Tidak hanya itu, menurut Fadhil, peningkatan permintaan yang cukup signifikan juga dicatatkan oleh Negeri Paman Sam. Amerika Serikat (AS). Sebab jika melihat catatannya kenaikan permintaan sebesar 52% atau dari 54,85 ribu ton di Februari meningkat menjadi 83,38 ribu ton pada Maret.

Kenaikan permintaan minyak sawit dari Indonesia juga diikuti oleh negara-negara Africa 13% dan Pakistan 10%. Padahal beberapa minggu sebelumnya Asosiasi Minyak Nabati Amerika Serikat juga menuduh Indonesia melakukan praktek dumping terhadap biodiesel yang diekspor.

“Namun hal ini belum berpengaruh terhadap ekspor minyak sawit dan produk turunannya ke
Amerika Serikat,” tutur Fadhil.

Tapi, Fadhil mengakui, sebaliknya negara yang menjadi tujuan utama ekspor Indonesia yaitu India dan China membukukan penurunan. Terbukti, pada Maret ini, India mencatatkan penurunan sebesar 27% atau dari 587,93 ribu ton di Februari menurun menjadi 430,03 ribu ton. Diikuti China turun 18% atau dari 344.09 ribu ton di Februari turun menjadi 322.14 ribu ton.

Kedua negara ini menurunkan permintaan karena stok rapeseed di kedua negara yang berlebihan khususnya India. Selain itu, negara India baru saja mengeluarkan regulasi penurunan tarif impor minyak bunga matahari dari 30% menjadi 10% yang efektif berlaku pada 1 April 2017.

“Hal ini menyebabkan para pedagang menahan pembelian minyak sawit dan akan menaikkan pembelian minyak bunga matahari untuk memanfaatkan turunnya tarif impor,” jelas Fadhil.

Artinya, Fadhil menjelaskan jika dari sisi harga, sepanjang Maret harga rata-rata CPO global bergerak di kisaran US$ 685 – US$ 750 per metrik ton dengan harga rata-rata US$ 731,7 per metrik ton.

Sementara itu harga harian pada April menunjukkan tren penurunan, harga hanya bergerak di kisaran US$ 655 – US$ 717,50 per metrik ton dengan harga rata-rata US$ 683,9 per metrik ton. “Kita memperkirakan harga sepanjang Mei akan masih stagnan dan akan bergerak di kisaran US$ 680 – US$ 720 per metrik ton,” papar Fadhil.

Sementara itu, Fadhil membenarkan bahwa saat ini pemerintah Indonesia yang telah menetapkan bea keluar ekspor CPO untuk bulan Mei sebesar US$ 0 per metrik ton dengan harga referensi US$ 731,01 per metrik ton.

“Ini artinya untuk pertama kali bea keluar ditetapkan nol pada tahun 2017 karena harga minyak sawit yang terus tergerus sehingga harga rata-rata yang menjadi patokan berada di bawah batas bawah pengenaan bea keluar yaitu US$ 750 per metrik ton,” pungkas Fadhil. YIN

(Visited 87 times, 1 visits today)