https://api.whatsapp.com/send?phone=6281361509763
Petrokimia Gresik
25 November, 2021
Bagikan Berita

Jakarta, Mediaperkebunan.id

Ekspor komoditas perkebunan tahun 2020 dari sisi volume 83% berasal dari kelapa sawit, 6% karet, 5% kelapa, 2% kakao dan 1% kopi. Sedang dari sisi nilai ekspor 68% berasal dari kelapa sawit, 12% karet, 5% kakao, 4% kelapa dan 3% kopi. Dedi Junaedi, Direktur Pengolahan dan Pemasaran Hasil Perkebunan menyatakan hal ini.

Ekspor perkebunan Januari-Juni 2021 dibanding periode yang sama 2020 dari sisi volume meningkat 3,4% sedang nilai meningkat 44,8%. Rincian perkomoditas kelapa sawit volume naik 3,2% dari 16,5 juta ton ke 16,66 juta ton sedang nilai naik 53,2% dari USD8,49 miliar menjadi USD 13 miliar.

Karet volume naik 11,1% (1,13 juta ton ke 1,25 juta ton) nilai naik 38,9% (USD1,52 miliar ke USD 2,12 miliar). Kelapa volume naik 0,5% (988.300 ton ke 993.700 ton) nilai naik 53% (USD519,2 juta ke USD 794,3 juta). Kakao volume naik 0,5% (176.300 ton ke 177.200 ton) nilai turun 3,9% (USD594,4 juta ke USD572,3 juta). Kopi volume naik 12,9% (155.600 ton ke 160.100 ton) nilai turun 8,1% (USD372,9 juta ke USD342,5 juta).

Teh volume turun 4,4% (21.870 ton ke 20.890 ton) nilai turun 7,3% (USD47,68 juta ke USD44,19 juta). Mete volume turun 26,9% (27.680 ton ke 20.230 ton ) nilai turun 29,2% dari USD58.8 juta ke USD41,6 juta). Sagu volume naik 5,1% (5.240 ton ke 5.500 ton), nilai turun 22,8% (USD1,3 juta ke USD996.000). Lada volume turun 1,9% (21.250 ton ke 20.850 ton) nilai naik 31,3% (USD59,15 juta ke USD77,69 juta).

Pala volume naik 27,4% (11.070 ton ke 14.110 ton) nilai naik 30% (USD77,2 juta ke USD100,5 juta). Cengkeh volume turun 3,8% (14.420 ton ke 13.870 ton) nilai naik 17,2% (USD53,53 juta ke USD62,73 juta). Kayu manis volume turun 11,1% (19.250 ton ke 17.110 ton) nilai naik 11,6% USD73,27 juta ke USD81,79 juta). Vanili volume turun 3,8% (156,9 ton ke 150,9 ton) nilai turun 39,6% (USD29,9 juta ke USD18,08 juta). Nilam volume naik 2,4% (3.710 ton ke 3.800 ton) nilai naik 11,2% (USD73,27 juta ke USD81,45 juta).

Baca Juga  Awas, Indonesia Krisis Data Kakao

Prioritas komoditas ekspor perkebunan adalah utama kopi, kakao, kelapa, jambu mete, lada, pala, vanili, kayu manis, cengkeh, teh; andalan kelapa sawit dan karet; pengembangan nilam, sagu, stevia, pinang, gambir, lontar, sereh wangi, aren, akar wangi dan kelor.

Kalau produktivitas ditingkatkan maka sebenarnya devisa perkebunan bisa lebih besar lagi. Data 2018 menunjukkan dengan luas areal tanaman perkebunan 27.043.440 ha dengan 15 komoditas nilai produksinya mencapai Rp376,42 triliun. Padahal bila potensi optimumnya bisa dicapai nilai produksi bisa Rp1.033,58 triliun atau ada peningkatan nilai tambah Rp883,84 triliun.

Gerakan produksi dan nilai tambah perkebunan (Grasida) dengan program pengembangan logistik benih; peningkatan produksi dan produktivitas; peningkatan nilai tambah, daya saing dan ekspor; modernisasi perkebunan; pembiayaan melalui KUR; peningkatan kapasitas SDM, optimasi jejaring stake holder. Pembiayaan APBN hanya stimulus sedang utama adalah perbankan lewat KUR adalah swasta dan sumber lainnya.

Saat ini ada 1.134 kostra tani perkebunan melalui Grasida target produksi naik 7%/tahun, ekspor naik 60%/tahun, penyerapan tenaga kerja 5%/tahun, peningkatan PDB perkebunan 5%/tahun, perkebunan milenial 105.000 orang/tahun, loses ditekan sehingga hanya tinggal 3% saja, UMKM perkebunan mencapai 12.500 unit usaha/tahun. Kondisi saat ini ekspor 60% berupa fresh product/raw material, target kedepan ekspor produk turunan yaitu produk bernilai tambah tinggi yang terdiri dari semi produk, produk tingkat 2 dan 3, produk jadi.

Kepala Pusat Karantina Tumbuhan dan Keamanan Hayati Nabati, Badan Karantina Pertanian, A.M Adnan menyatakan produk perkebunan yang ekspornya perlu ditingkatkan adalah PKE (Palm Kernel Expeller, ampas sawit),lada dan vanilla. Khusus PKE untuk memenuhi persyaratan negara mitra pihaknya sudah melakukan verifikasi dan approval fasilitas ekspor ke New Zealand. Saat ini ada 25 fasilitas ekspor PKE yang diakui berdasarkan remote audit April 2021.

(Visited 13 times, 1 visits today)