30 May, 2020

Pandemi Covid-19 berdampak ke mana-mana termasuk ke hulu kopi. Harga kopi arabika di Sulsel (Toraja Utara, Toraja dan Enrekang) yang biasanya Rp13.000/kg sekarang menjadi Rp6000/kg. Penyebabnya adalah kendala di pasar ekspor. Kasdi Subagyono, Dirjen Perkebunan menyatakan hal ini dalam webinar kopi IRAI.

Pandemi menyebabkan banyak negara melakukan lockdown, sehingga ekspor terhambat. Akibatnya eksportir tidak mampu menyerap kopi di sentra-sentra produksi. Industri di dalam negeri sendiri dengan adanya pembatasan juga terkendala dalam menyerap kopi.

Akibatnya di sentra-sentra produksi terjadi penumpukan kopi yang tidak terserap pasar dan akhirnya harga turun. “Apa yang terjadi pada kopi di Sulsel bisa terjadi pada komoditi lainnya di berbagai daerah. Karena itu saya minta kepala-kepala dinas yang membawahi perkebunan untuk memperhatikan hal ini, harus diantisipasi supaya tidak terjadi,” katanya.

Transportasi meskipun dalam rapat terbatas di pusat dinyatakan untuk komoditas pertanian bisa terus berjalan, tetapi kenyataan di lapangan ternyata terkendala juga. Karena keberadaan armada agak langka maka biayanya naik sehingga harga kopi petani semakin ditekan.

Petani tidak berdaya menghadapi penumpukan produksi karena tidak punya gudang penyimpanan yang memenuhi syarat. Mau mengolah juga alatnya tidak ada. Dalam masa pandemi ini Nilai Tukar Petani perkebunan turun secara significant.

Petani untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari saja sudah sulit, apalagi memelihara kebun. Kebun menjadi terlantar dan tidak dirawat sehingga rentan terkena OPT. Kalau dibiarkan maka kedepan produksi perkebunan akan semakin menurun.

“Pemerintah tentu tidak tinggal diam. Kita mencari alternatif pasar ekspor dan mengoptimalkan ekspor. Kemudian karena sekarang permintaan menurun maka eksportir menggabungkan pengiriman sehingga bisa memenuhi volume yang dibutuhkan untuk ekspor,” katanya.

Kebijakan selanjutnya adalah resi gudang. Eksportir mendapat dana talangan untuk resi gudang dengan syarat menampung kopi petani harga Rp10.000/kg misalnya. Banyak gudang eksportir yang penuh maka pemda bisa membantu mencari gudang kosong untuk disewakan.

Ditjenbun akan membantu petani alat pasca panen sehingga kualitas green beannya meningkat. Juga ada bantuan alat pengolahan sehingga bisa menghasilkan kopi roasted atau kopi bubuk.

Pemerintah juga akan memberikan social safety net pada petani miskin dengan bantuan benih, pupuk dan pestisida. Mereka tidak hanya menanam kopi saja tetapi juga sayuran dan tanaman pangan sehingga bisa memenuhi kebutuhan pangan.

Akses permodalan dibuka lewat KUR (Kredit Usaha Rakyat). Pertanian mendapat alokasi KUR Rp50 triliun dan yang sudah diserap Rp17 triliun. Perkebunan mendapat alokasi Rp20,57 triliun dan yang sudah diserap Rp5 triliun. Serapan terbesar untuk perkebunan adalah untuk kelapa sawit, kemudian kopi dan kakao.

Pemerintah juga sedang merancang supaya petani bisa mendapatkan cash dengan cepat. Pada petani tebu dengan sistim beli putus maka petani yang biasanya menerima pembayaran setelah 1-2 bulan sekarang bisa satu minggu. Pada kopi sedang dicari cara yang efektif.

Ditjebun juga melakukan bimbingan teknis pada kelompok-kelompok tani supaya kapasitasnya meningkat menjadi eksportir. Pemasaran bekerjasama dengan platform online untuk memasarkan produk jadi kopi yang dihasilkan kelompok tani. Beberapa kelompok tani yang menghasilkan kopi bubuk juga sudah bisa memasarakan produksinya lewat Toko Mitra Tani Indonesia .

(Visited 133 times, 1 visits today)