https://api.whatsapp.com/send?phone=6281361509763
Petrokimia Gresik
7 August, 2021
Bagikan Berita

Jakarta, mediaperkebunan.id – Berbagai cara terus dilakukan oleh pemerintah dalam hal ini Kementerian Pertanian (Kementan) melalui Direktorat Jenderal Perkebunan (Ditjenbun) untuk meningkatkan nilai tambah hasil petani, dinataranya dengan mendorong produk organik termasuk diantaranya komoditas perkebunan.

Benar, bahwa komoditas perkebunan semakin banyak diminati telebih ditengah pandemi. Hal ini lantaran dari komoditas perkebunan mempunyai banyak turunan dari mulai untuk infrastruktur, otomotif, energi, kesehatan hingga pangan.

Terkait dengan pangan, saat ini masyarakat dunia sudah mulai mengarah kepada pangan sehat dengan mengonsumsi produk-produk organik. Berdasarkan data Statistik Pertanian Organik Indonesia (SPOI) 2016 bahwa jumlah permintaan konsumen terhadap produk organik meningkat 54 persen dibandingkan tahun sebelumnya.

Atas dasar itulah Ditjenbun membangun desa pertanian organik berbasis komoditas perkebunan yang saat ini sudah ada 150 desa. Hal ini dilakukan untuk memenuhi permintaan dari masyarakat dalam dan luar negeri akan kebutuhan produk organik.

“Upaya membangun perkebunan berwawasan lingkungan termasuk memenuhi permintaan pasar terhadap produk perkebunan berkualitas, dan sehat untuk dikonsumsi,” kata Ardi Praptono, Direktur Perlindungan Perkebunan, Ditjenbun, Kementan kepada Media Perkebunan.

Menurut Ardi, setiap desa pertanian organik diberi input berupa ternak, rumah kompos, alat pencacah dan pembuat kompos. Adapun untuk mengendalikan penyakit dan hama pada tanaman atau organisme pengganggu tanaman (OPT) maka petani diajari membuat pestisida nabati dari daun-daun tanaman di sekitarnya juga agen pengendali hayati. Kemdudian petani juga diajari cara membuat pupuk alami dimana bahan bakunya ada disekitar lingkungan.

Pemerintah melalui Ditjenbun juga telah mengalokasikan anggaran untuk pendampingan, penyediaan input produksi organik, dan sertifikasi organik untuk kelompok tani.

“Selain dari Pemerintah, dapat juga dibangun pola kemitraan saling menguntungkan antara kelompok tani dengan perusahaan eksportir komoditas organik,” ungkap Ardi. Berita selengkapnya ada di Majalah Media Perkebunan edisi Agustus 2021. (yin)

(Visited 24 times, 1 visits today)
Baca Juga  Harga Karet Lump Agustus 2016