12 December, 2019

JAKARTA, Perkebunannews.com – Diperlukan teknologi yang baik untuk meningkatkan produktifitas karena kepemilikan lahan sebagian besar petani di Indonesia luasannya kecil-kecil. Penerapan teknologi yang baik diharapkan membawa Indonesia bisa kembali merasakan kejayaan produk-produk pertanian yang pernah merajai dunia, seperti lada, pala, vanili dan gula.

Hal tersebut dikatakan Chairman Institute for Food and Agriculture Development Studies (IFADS) Iskandar Andi Nuhung, dalam acara Media Gathering. Acara bertajuk “Strategi dan Kebijakan Pertanian di Indonesia 2019-2024: Pembangunan Pertanian di Era Industri 4.0 dan Kesiapan Milenial Menuju Indonesia Emas 2045” di Jakarta, Kamis (12/12).

Andi Nuhung mengatakan, Indonesia pernah menjadi produsen gula terbesar di dunia setelah Cuba. Namun lambatnya penerapan teknologi dan berbagai hambatan yang lain, Industri gula tanah air mengalami kemunduran, sehingga kini menjadi salah satu pengimpor gula terbesar di dunia.

Menurut Andi Nuhung, tantangan terbesar pertanian Indonesia adalah bagaimana petani dapat menghasilkan produk pertanian berkualitas dalam kaitan lingkungan, demografis, ekonomi dan selera konsumen yang semakin kompleks. Hal ini seperti juga yang ditekankan Presiden Joko Widodo untuk meningkatkan kualitas dan kesejahteraan petani agar berdaya saing.

Andi Nuhung mengingatkan Indonesia perlu mewaspadai ancaman krisi pangan global. Berdasarkan laporan Asia Food Challenge Report, negara-negara di Benua Asia bakal mengalami krisis pangan dalam 10 tahun ke depan.

Saat ini, lanjut Andi Nuhung, dunia pertanian Indonesia sudah cukup baik. Namun ekspektasi pasar yang bergerak terlalu cepat membutuhkan akselerasi untuk memenuhinya.

Andi Nuhung mengakui, saat ini masih ada hambatan yang harus diatasi, diantaranya ada kekawatiran adanya degradasi lahan sehingga tak berkelanjutan. “Banyak negara sudah bisa membangun pertanian yang berkelanjutan, kita berharap Indonesia segera mengikutinya,” ujarnya.

Apalagi Indonesia dianugerahi iklim yang memungkinkan semua tanaman bisa tumbuh dengan subur. “Potensinya luar biasa, tinggal bagaimana kita mengolahnya untuk menghasilkan produktifitas yang tinggi untuk memenuhi kebutuhan 260 juta penduduk Indonesia,” jelas Andi Nuhung. (YR)

(Visited 24 times, 1 visits today)