12 June, 2020

JAKARTA, Mediaperkebunan.id – Di tengah pandemi Covid 19 saat ini dibutuhkan kebijakan yang mampu menyerap karet rakyat agar petani bergairah kembali. Berhentinya industri otomotif berdampak pada penyerapan karet nasional yang berujung pada harga karet yang semakin mengkeret.

Demikian dikatakan Direktur Utama PT Riset Perkebunan Nusantara (RPN) Iman Yani Harahap dalam Forum Diskusi virtual di Jakarta, Kamis (11/6). Diskusi yang diselenggarakan Majalah Media Perkebunan bekerjasama Pusat Penelitian Karet Indonesia itu bertajuk “Penguatan Industri Karet di Era New Normal”.

Yani mengakui, pandemi Covid sangat memukul industri karet dalam negeri. Karena industri otomotif yang menyerap karet berhenti produksi. Sehingga ekspor karet pun anjlok yang berdampak pada harga karet.

Yani menyebutkan, pada Maret 2020 ekspor karet Indonesia masih berjalan sesuai kontrak. “Namun memasuki April hingga bulan Mei ini ekspor karet kita anjlok sampai 15 persen yang menyebabkan perusahaan berhenti produksi,” ungkapnya.

Yani mengatakan, pada awal 2020 harga karet masih 1,4 USD per kilogram (Kg). Namun saat ini harga karet anjlok 1.09 USD per Kg.

Yani mengatakan, anjloknya harga karet itu berdampak pada kondisi tanaman karet karena kurangnya perawatan. Sehingga produksi karet pun anjlok. Produksi karet saat ini rata-rata 1,5 ton per hektar (Ha). Sedangkan kebun karet rakyat sekitar 1,1 ton per Ha.

Dengan kondisi itu, menurut Yani, diperlukan kebijakan untuk menstimulus industri karet, terutama bagi petani. Selain itu juga dibutuhkan teknologi penyadapan yang tepat di tengah situasi pandemi yang serba sulit. (YR)

(Visited 66 times, 1 visits today)