14 August, 2016

Ditengah riuhnya pertentangan soal angka produksi kakao, Dewan Kakao Indonesia mencoba menengai dengan pendekatan berbeda, lalu seperti apa caranya?

Soetanto Abdoellah, Ketua Umum Dewan Kakao Indonesia (Indonesia Cocoa Board ), mengatakan jika ASKINDO (Asosiasi Kakao Indonesia) melakukan pendekatan jumlah kapasitas pengolahan biji kakao di industri, ditambah ekspor biji kakao dan dikurang impor, dan Pemerintah berbasis on farm, maka Dewan Kakao memiliki pendekatan berbeda.

Sebab jika mengikuti data yang dirilis oleh Badan Pusat Statistik setiap bulan lewat www.bps.go.id, dapat diperoleh data ekspor dan impor kakao Indonesia dan produk turunannya, baik berupa biji, pasta, lemak, bubuk, maupun cokelat. Produk kakao dan turunannya ini tercantum dengan kode HS 1801000000 sampai 1806909000 (HS 2007) atau 180100000 sampai 180690000 (HS 2003).

Data ekspor dan impor ini cukup akurat, karena diambil dari catatan ekspor dan impor di pelabuhan-pelabuhan. Berbeda dengan pendekatan AKINDO, secara teoritis, jika semua produk kakao dan turunannya dikonversi menjadi setara biji, kemudian angka yang diperoleh dari konversi tersebut yang berupa angka ekspor dikurangi angka impor, dan ditambah dengan angka total konsumsi dalam negeri, akan menunjukkan besarnya produksi biji kakao dalam negeri.

“Namun angka konsumsi dalam negeri yang akurat sulit diperoleh, selama ini hanya angka perkiraan yang tidak jelas bagaimana metode penghitungannya. Dari beberapa statemen diperoleh angka perkiraan konsumsi dalam negeri setara dengan 0,5-0,7 kg biji kering per kapita per tahun,” terang Soetanto.

Terbukti, Soetanto menjelaskan dari penelusuran data ekspor biji kakao dan turunannya antara tahun 2008 hingga 2015, diperoleh trend terjadinya peningkatan ekspor total setara biji sejak tahun 2008 sampai 2010. Kemudian menurun hingga mencapai titik terendah di tahun 2014, tetapi pada tahun 2015 meningkat lagi.

Lalu, antara tahun 2010 sampai dengan 2015 terjadi penurunan tajam ekspor biji kakao, tetapi ekspor berupa produk olahan antara (intermediate) meningkat. Ekspor produk akhir (cokelat) relatif stabil. Pada tahun 2015, ekspor berupa biji kakao sebanyak 39,6 ribu ton, produk olahan antara (intermediate) sebanyak 671,7 ribu ton setara biji, dan produk olahan final sebanyak 7,3 ribu ton setara biji.

Jika angka ekspor total setara biji dikurangi dengan angka impor total setara biji (yang merupakan angka ekspor bersih/net export) antara tahun 2008 hingga 2015, diperoleh kisaran antara 439,8 ribu ton (tahun 2014) hingga 657,4 ribu ton (tahun 2015). Dari grafik di bawah menunjukkan bahwa tahun 2015 merupakan puncak ekspor bersih (net export) produk kakao dan turunannya dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya.

“Jadi dari uraian di atas terlihat, tanpa memperhitungkan angka konsumsi dalam negeri, ekspor bersih kakao Indonesia antara tahun 2008 hingga 2015 berkisar antara 439,8 ribu ton (tahun 2014) hingga 657,4 ribu ton (tahun 2015) dan tahun 2015 merupakan puncak ekspor bersih (net export) produk kakao dan turunannya dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya,” jelas Soetanto.

Oleh sebab itu, Soetanto mengakui bahwa dengan pendekatan ekspor impor produk turunan Dekaindo memperkirakan angka produksi nasional yang lebih optimis dari Asosiasi Kakao Indonesia (asosiasi eksportir kakao) untuk tahun 2015 yakni 657 ribu ton.

Sementara itu, pengamat perkebunan Azwar Abubakar, menilai angka tersebut lebih realistis. “Seharusnya Dekaindo mengsosialisasikan hasil perhitungan ini kepada dunia luar, karena yang berhak menyuarakan tentang kakao Indonesia adalah Dewan kakao yang mewakili seluruh stakeholder, dan bukan ASKINDO yang sesungguhnya asosiasi ekspotir, ” pungkas Azwar. YIN

(Visited 439 times, 1 visits today)