https://api.whatsapp.com/send?phone=6281361509763
18 December, 2021
Bagikan Berita

Jakarta, mediaperkebunan.id – Suka tidak suka harus diakui berdasarkan Badan Pusat Statistik (BPS) merilis kinerja ekspor nasional bulan November 2021 mencapai US$ 22,84 miliar atau naik 3,69 persen dibandingkan Oktober 2021. Dalam laporannya, BPS juga menyebut bahwa sektor pertanian tumbuh sebesar 4,18 persen atau US$ 0,43 miliar bila dibandingan dengan bulan sebelumnya (M-to-M). Dari naiknya ekspor pertanian, sektor perkebunan masih mendominasi yakni kelapa sawit, kopi, kakao dan lainnya.

Hal tersebeut mengemuka dalam diskusi rangkaian Hari Perkebunan ke-64 di Jakarta yang diselenggarakan oleh Media Perkebunan.

Lebih lanjut, Ketua Bidang Komunikasi Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI), Tofan Mahdi sebagai salah satu pembicara dalam acara terebut mengungkapkan bahwa devisa yang ekspor yang disumbangkan oleh komoditas kelapa sawit menembus angka Rp 500 triliun.

Adapun empat negara tujuan ekspor kelapa sawit terbesar yakni India, China, Pakistan dan Belanda. kemudian diikuti 3 negara tujuan ekspor kelapa sawit yang volumenya tidaklah kecil yakni Spanyol, Amerika Serikat, dan Egypt. Bahkan ekspor kelapa sawit terus meluas seiring bertambahnya produkturunan dari komoditas tersebut.

“Adapun produksi November dan Desember diperkirakan akan naik dengan total sekitar 8.580 ribu ton dan PKO sekitar 815 ribu ton sehingga produksi CPO 2021 diperkirakan mencapai 47.472 ribu ton dan PKO mencapai 4.482 ribu ton atau total 51.954 ribu ton,” jelas Tofan.

Lebih dari itu, tidak hanya ekspornya saja yang cukup besar. Tofan mengungkapkan ,bahwa sektor kelapa sawit turut menyerap tenaga kerja yang tidaklah kecil yakni sebanyak 4,4 juta tenaga kerja langsung, 12 juta tenaga kerja tidak langsung.”

Selain itu, Tofan pun mengakui, bahwa kelapasawit tidak hanya mendongkak ekspor nasional tapi juga telah menghemat devisa negara. “Penghematan devisa USD 3,54 atau Rp 51,73 Trilliun melalui mandatori B-20. Kemudian, program mandatori B30 diperkirakan menghemat sebesar USD 8 miliar atau sekitar Rp 116 triliun,” papar Tofan.

(Visited 49 times, 1 visits today)
Baca Juga  Akademisi: Sebaiknya ada Kementerian Perkebunan