30 April, 2020

Jambi, mediaperkebunan.id – Ada sebab ada akibat, begitulah yang terjadi pada petani kopi. Saat ini petani kopi merasa risau karena disaat menjelang panen raya justru harga kopi ditingkat petani jatuh akibat adanya wabah Covid-19.

“Jadi memang tidak lama lagi kita akan panen raya, tapi masalahnya saat ini harga buah ceri kopi ditingkat petani sedang jatuh,” risau Mulyadi, petani kopi asal Jambi, kepada media perkebunan.

Jatuhnya harga kopi ini, menurut Mulyadi, dikarenakan menumpuknya buah ceri kopi yang akan dijual ke pabrik-pabrik pengolahan. Pabrik pun tidak bisa membeli buah dari petani karena sulit untuk dijual, baik untuk ekspor ataupun dalam negeri.

“Mereka (pabrik-red) juga kebingungan melakukan ekspor, karena pembelinya tutup. Begitu juga yang terjadi pada petani binaannya,” tutur Mulyadi yang mempunyai lahan 3,5 hektar.

Bahkan, lanjut Mulyadi, pelaku kopi kecil pun juga sulit untuk menjual hasil panennya. Biasanya pelaku kecil bisa menjual hasil panennya ke pulau Jawa khusunya Jabodetabek dalam bentuk green bean kopi. Tapi kini tidak lagi, karena saat ini coffee shop sedang tutup. Alhasil yang biasanya coffee shop rutin membeli green bean setiap bulannya kini tidak lagi.

“Biasanya saya dapat oder mengirim ke Jakarta beberapa coffee shop, tapi kini tidak lagi. Sebab saat ini coffee shop-nya pun sedang tutup,” jelas Mulyadi.

Akibatnya, Mulyadi menerangkan, dengan menurunnya permintaan baik dari pabrik ataupun yang diolah lalu dikirim langsung maka harga buah ceri kopi ditingkat petani saat ini mengalami penurunan yang sangat tajam.

“Biasanya untuk yang jenis arabica ditingkat petani bisa mencapai Rp8.000 per kilogram kini hanya sekitar Rp5.000 – Rp6.000 per kilogram Bahkan untuk yang jenis robusta ada yang menembus angka Rp2.500 per kilogram,” keluh Mulyadi.

Melihat hal ini, Mulyadi khawatir, “jika ada pihak yang kurang baik seperti tengkulak maka harga buah ceri kopi ditingkat petani bisa ditekan habis dengan alasan daripada tidak laku maka dibelilah secara besar-besaran. Setalah dibeli lalu diolah menjadi green bean dan disimpan hingga wabah covid-19 selesai baru dijual kembali.”

Sehingga dalam hal ini, Muyadi menyarankan kepada teman-teman petaninya agar jika pabrik sudah tidak bisa membelinya maka alangkah baiknya diolah sendiri menjadi green bean lalu dikemas dengan baik dan dijual setelah wabah Covid-19 ini selesai.

“Memang, jika dalam bentuk green bean bisa bertahan sampai satu tahun, tapi rasa dan aromanya akan berkurang. Namun petani masih mendapatkan keuntungan jika dijual dalam bentuk green bean dibandingkan dalam bentuk buah ceri kopi disaat harga seperti saat ini,”saran Mulyadi kepada teman-temannya.

Disisi lain, Mulyadi juga menyankan kepada teman-temannya disaat harga buah ceri kopi ini jatuh atau bahkan sulit untuk dijual maka sebaiknya menanam sayur-sayuran disela-sela tanaman kopi seperti cabai dan kentang . Memang meskipun harga tanaman sayur-sayuran juga tidak tinggi, tapi setidaknya minimal ada pemasukan buat kebutuhan sehari-hari.

(Visited 203 times, 1 visits today)