16 September, 2020

Jakarta, Media Perkebunan.id

Total luas kebun kelapa sawit di Indonesia adalah 16,38 juta ha terdiri dari perusahaan swasta 8,68 juta ha, rakyat 6,72 juta ha, sementara BUMN PTPN III holding 594.000 ha. “Di sektor hulu BUMN sekarang sudah tertinggal jauh dari swasta, padahal BUMN dulu adalah perintis perkebunan kelapa sawit, juga pola inti plasma. Sekarang di hilir untuk biodiesel juga BUMN sama sekali tidak ada kiprahnya,” kata Gamal Nasir, Pembina POPSI (Persatuan Organisasi Petani Sawit Indonesia).

Saat ini pemerintah dengan program B30 yang akan ditingkatkan menjadi B50 dengan bangga menyebutkan sawit sebagai ketahanan energi nasional. “Memang benar sawit membuat ketahanan energi nasional meningkat. Tetapi pengolah biodiesel adalah perusahaan yang sebagian besar terdaftar sebagai PMA. Kantor pusatnya saja di Singapura. Jadi ketahanan energi kita diserahkan pada perusahaan asing,” katanya.

Alokasi dana BPDPKS untuk biodiesel sampai tahun 2019 mencapai Rp29,2 triliun yang dibayarkan kepada produsen biodiesel untuk menutupi perbedaan harga solar dan biodiesel. Pembelinya sebagian besar adalah BUMN yaitu Pertamina dan sebagian kecil perusahaan swasta PT AKR dan Exxonmobil.

Dalam biodiesel ini posisi PTPN sama dengan petani yaitu hanya menjadi penonton saja. Alokasi dana yang sangat besar tidak dinikmati langsung oleh petani dan BUMN. Petani lewat POPSI akan difasilitasi oleh Kementerian ESDM supaya menjadi pemasok TBS bagi PKS yang menjual CPOnya pada perusahaan biodiesel.

“Pemerintah juga harus mendorong BUMN perkebunan menjadi pemasok utama biodiesel. Dengan demikian ketahanan energi bertumpu pada BUMN yaitu PTPN dan Pertamina,” kata Gamal.

PTPN adalah perintis perusahaan perkebunan kelapa sawit dan kemitraan tetapi sekarang sudah jauh tertinggal. Pabrik minyak goreng sawit pertama juga dibangun PTP 6 diresmikan tahun 1977 di Adolina. Tetapi sekarang tutup karena kalah bersaing dengan pabrik minyak goreng group-group besar kelapa sawit yang dibangun kemudian.

“Jangan dibiarkan PTPN terus kalah bersaing. Energi adalah sektor strategis bangsa yang didalamnya tidak hanya hitung-hitungan bisnis saja. Kehadiran negara dalam sektor energi terbarukan yaitu bahan bakar nabati bisa direpresentasikan dengan PTPN menjadi pemain utama,” kata Gamal lagi.

(Visited 84 times, 1 visits today)