15 May, 2020

BPDPKS (Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit) mentargetkan semester 2 tahun 2020 ini sudah ada petani yang mendapat bantuan dana sarana dan prasarana. Anwar Sunari, Direktur BPDPKS, menyatakan hal ini pada Webinar “Mungkinkah Meningkatkan Produktivitas Sawit Rakyat di Tengah Pandemi” yang diselenggarakan Media Perkebunan dan POPSI (Persatuan Organisasi Petani Sawit Indonesia).

Terbitnya Kep Dirjenbun nomor 144/Kpts/OT.50/ tahun 2020 tentang Pedoman Teknis Sarana dan Prasarana Perkebunan Kelapa Sawit Dalam Kerangka Pendanaan BPDPKS, sebagai tindak lanjutnya BPDPKS telah menyusun draft Peraturan Dirut BPDPKS tentang tata cara penyaluran dana sarana prasarana perkebunan kelapa sawit.

Setelah harmonisasi Kepditjenbun dan Perdir BPDPKS dilakukan sosialiasi. “Kalau covid sudah selesai segera kita lakukan sosialisasi di daerah. Saya targetkan semester 2 sudah pecah telur yaitu ada petani yang mendapatkan dana bantuan. Pecah telur dimulai dengan menu-menu yang mudah dieksekusi seperti bantuan dana untuk bibit, pupuk, alat pasca panen dan pengolahan hasil dan pestisida,” katanya.

Sebagai insentif dinas-dinas kabupaten yang mempunyai komitmen tinggi terhadap program PSR akan diprioritaskan mendapat kegiatan tersebut. Dana yang dialokasikan untuk sarpras adalah Rp200 miliar.

“Dirut BPDPKS yang baru Eddy Abdurrachman sudah menetapkan bahwa alokasi dana untuk sektor hulu yaitu petani harus dipenuhi terlebih dahulu,” kata Sunari lagi.

Dalam kesempatan yang sama Dirjen Perkebunan, Kasdi Subagyono, menyatakan jenis sarana dan prasarana perkebunan kelapa sawit yang bisa mendapatkan bantuan dana BPDPKS adalah benih, pupuk, pestisida, alat pasca panen, unit pengolah hasil, jalan dan tata kelola air, alat transportasi, mesin pertanian, infrastruktur pasar dan verifikasi teknis ISPO. Diberikan pada kelompok tani, gapoktan, koperasi dan kelembagaan pekebun lainnya dalam bentuk paket.

Tahun 2020 fokus kegiatan bantuan dana sarpras dari BPDPKS ini dilaksanakan di 18 provinsi yaitu 2.000 ha untuk ekstensifikasi (bantuan dana untuk benih, pupuk dan pestisida), 8.000 ha untuk intensifikasi (bantuan dana untuk pupuk dan pestisida), 6.000 ha untuk perbaikan jalan (bantuan dana untuk peningkatan jalan di kebun) dan 10 paket pembiayaan sertifikasi ISPO. Tujuan utama bantuan ini adalah peningkatan produktivitas pekebun.

Ekstensifikasi diprioritaskan di lahan yang berada di daerah perbatasan, daerah pasca konflik, daerah pasca bencana dan daerah tertinggal/miskin. Sedang intensifikasi di kebun yang ekstisting. Pekebun yang ikut PSR bisa mendapatkan bantuan dana Sarpras bila kebunnya sudah menghasilkan.

(Visited 127 times, 1 visits today)