2022, 27 Januari
Share berita:

Jakarta, Mediaperkebunan.id

BPDPKS (Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit) bekerjasama dengan Media Perkebunan mengadakan webinar “Peranan Industri Kelapa Sawit Dalam Penanaganan Perubahan Iklim”. Melalui paparan semua narasumber terungkap bawa industri kelapa sawit dengan segala aktivitasnya ikut berperan dalam upaya penanganan perubahan iklim.

Menteri Pertanian yang diwakili oleh Ardi Praptono (ketika acara ini berlangsung Direktur Perlindungan Perkebunan, sekarang Direktur Tanaman Semusim dan Rempah) menyatakan sebagai tindak lanjut dari Peraturan Presiden nomor 98/2021 tentang Nilai Ekonomi Karbon saat ini Kementan sedang menyusun grand desain pembangunan Berketahanan Iklim dan Pembangunan Rendah Karbon disektor pertanian.

Isinya menjabarkan konsep dan kebijakan pembangunan berketahanan iklim dan pembangunan rendah karbon sektor pertanian; menyediakan bahan acuan dalam penyusunan program dan rencana aksi penanganan dampak perubahan iklim sektor pertanian; menghasilkan instrumen manajemen untuk melakukan koordinasi dan sikronisasi program dan rencana kegiatan pemerintah, masyarakat dan pelaku bisnis dalam upaya penanganan dampak perubahan iklim sektor pertanian; mendorong diskursus nasional perihal konsep, arah dan peta jalan penanganan dampak perubahan iklim setor pertanian; membangkitkan energi politik pertanian untuk mewujudkan konsesus nasional rencana penanganan dampak perubahan iklim sektor pertanian.

Menyusun regulasi permbangunan berketahanan iklim dan pembangunan rendah karbon di Kementan melalui penetapan Permentan, Kementan dan regulasi lainnya. Mengkaselerasi peran Tim Pokja Penanganan Dampak Perubahan Iklim lingkup Kementan.

Mitigasi perubahan iklim pada industri kelapa sawit lewat Perpres 44 tahun 2020 tentang ISPO; Permentan 38 tahun 2020 tentang sertifikasi ISPO. Pada kriteria ISPO 3.8 yaitu mitigasi emisi GRK terdapat 5 indikator penilaian yaitu memiliki SOP mitigasi emisi GRK; memiliki inventarisasi sumber emisi GRK; memiliki hasil perhitungan GRK; memiliki dokumen riwayat lahan; memiiliki dokumen mitigasi GRK.

Aksi mitigasi perubahan iklim pada praktek budidaya perkebunan kelapa sawit adalah penghindaran pembukaan lahan hutan alam untuk kegiatan sawit; rehabilitasi lahan terlantar/lahan kritis; penerapan pembukaan lahan tanpa bakar; penggunaan pupuk organik; restorasi gambut; perbaikan tata air gambut.

Hasril Hasan Siregar, peneliti senior Pusat Penelitian Kelapa Sawit menyatakan perkebunan kelapa sawit mampu mengurangi pemanasan global (pegurangan emisi GRK) melalui penyerapan kembali CO2 dari udara dalam proses fotositesa dan penggunaan biodiesel sawit sebagai pengganti bahan bakar fosil.

Mitigasi dan adaptasi yang perlu dilakukan adalah penggunaan bahan tanaman unggul cekaman iklim ekstrim seperti DxP Langkat dan DxP Lame dari PPKS; teknik-teknik konservasi air dan lahan perlu lebih diefektifkan; rorak, guludan, biopori, pembuntuan parit menjelang kemarau maupun embung merupakan upaya pemanenan air pada musim hujan untuk digunakan pada musim kemarau; sistim drainase dan pengelolaan tata air; model-model prediksi iklim diharapkan lebih efektif dan meningkat akurasinya.

Ifri Hadi yang mewakili CEO PTPN V Jatmiko Santosa menyatakan saat ini PTPN V sudah memanfaatkan POME menjadi biogas yaitu 2 PLTBg dengan teknologi covered lagoon kapasitas total 2,3 MW (Tandun dan Teratam); 2 PTBg dengan teknologi Continous Stirred Tank Reactor (CSTR) dengan produksi biogas 120 Nm3 biogas/jam di Sei Pagar dan 500 Nm3 biogas/jam di Lubuk Dalam. Juga telah membangun PTBg Cofiring menggunakan covered lagoon secara mandiri di PKS Sei Tapung dan Sei Rokan dengan produksi biogas 500 Nm3 biogas/jam. Hasilnya adalah dapat menekan emisi GRK sampai 50% dari perhitungan awal.

Saat ini inisatif penerkanan emisi GRK yang sudah dilaksanakan PTPN V dalam on farm adalah zero burning untuk replanting dan pembukaan baru; tidak melakukan perluasan di lahan gambut; penerapan water management pada lahan gambut eksisting; chipping saat replanting; efisiensi pemupukan dan aplikasi pestisida dengan precision farming; pengelolaan areal nilai konservasi tinggi; monitoring karhutla; pengendalian hama terpadu non kimia (burung hantu, bunga turnera dan lain-lain).

Sedang off farm PLTBg, PLTBg Cofiring, Pilot BioCNG; pemanfaatan limbah cair dan padat seperti abu tangkos, POME untuk land application dan mulsa tangkos; efisiensi penggunaan BBM solar genset; riset kultivasi mikroalgae dengan media POME terfiltrasi; pemanfaatan jaringan PLN untuk perumahan.

Sedang rencana tahun 2022 untuk ob farm adalah aplikasi pupuk organik sebagai subtitusi pupuk kimia dan aplikasi biopestisida. Off farm reaktivasi pabrik kompos dari tandan kosong; pengembangan 2 unit PTBg Cofiring; penambahan 1 unit pilot BioCNG kerjasama riset dengan Daehan di Lubuk Dalam; lanjutan kerjasama cofiring EFB dengan PLN.