23 January, 2020

Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian melalau Balai Penelitian Tanaman Rempah dan Obat (Balittro), Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan ikut serta dalam program perbaikan bencana pasca longsor yang dikembangkan Badan Penangulanggan Bencana Nasional yaitu sistem vertiver yaitu konservasi tanah dan air dengan menggunakan akar wangi. Pelaksanaannya dilakukan di Gunung Halimun Bogor dan Lebak.

Sistem Vetiver digunakan di lebih dari 100 negara untuk konservasi tanah dan air, stabilisasi infrastruktur, pengendalian polusi , pengolahan air limbah , mitigasi dan rehabilitasi, pengendalian sedimen , pencegahan kerusakan badai dan aplikasi perlindungan lingkungan lainnya.

Kepala Balittro, Evi Savitri Iriani menyatakan Balitbang Kementan telah melepas 2 varietas unggul akar wangi yaitu Verina 1 dan Verina 2, yang sejak awal dirancang untuk menghasilkan minyak atsiri bukan untuk konservasi. Namun bila varietas akar wangi tersebut dibiarkan, tidak dipanen akan terus tumbuh akarnya dan berfungsi untuk konservasi.

“Petani tahu akar wangi ini bernilai ekonomi tinggi karena itu untuk mencegah terjadi pembongkaran akar wangi bila telah di jadikan vegetasi konservasi maka perlu di model polikultur dengan tanaman tahunan khususnya yang bisa menjadi sumber pendapatan masyarakat,” kata Evi.

Tanaman tumpang sari yang diajukan Balittro adalah biofarmaka, kayu manis, kayu putih, kopi, kakao dan teh. Bisa juga tanaman lain seperti buah dan tanaman kehutanan. Benih yang akan digunakan diperoleh dari beberapa sumber termasuk yang sudah ditanam pada proyek Citarum. Balittro sendiri juga pernah mengirimkan benih untuk proyek tersebut.

Selain yang sudah dilepas, saat ini Balittro mempunyai 40 koleksi sumberdaya genetik akar wangi sebagai untuk pemuliaan. Sumber daya genetik ini juga akan dikembangkan untuk menghasilkan akar wangi untuk konservasi.