10 April, 2020

Mengacu pada laporan WHO, saat ini, sekitar 820 juta orang di seluruh dunia mengalami kekurangan makanan untuk mencukupi kalori dasar untuk menjalani kehidupan sehari-hari secara normal. Dari jumlah tersebut, 113 juta orang, saat ini sedang terancam mata pencaharian mereka dan menjadikan mereka bergantung pada bantuan untuk bertahan hidup. Orang-orang ini tidak mampu menghadapi potensi gangguan lebih lanjut terhadap pemenuhan kebutuhan pangan mereka.

COVID-19 sudah melanda sebagian besar wilayah dunia, berkembang di 44 negara. Tidak kurang 53 negara yang dihuni oleh 113 juta orang mengalami kerawanan pangan akut, banyak yang sistem kesehatan dan perlindungan sosialnya menghadapi kendala kapasitas. FAO menyebutkan dampak pandemi akan lebh berat pada komunitas rentan yang sudah bergulat dengan kelaparan atau krisis lainnya, terutama negara-negara yang sangat bergantung pada makanan import. Kelompok-kelompok yang rentan juga termasuk petani skala kecil, peternak, dan nelayan.

Petani kita, yang menurut data BPS 60% berumur lebih dari 45 tahun merupakan usia yang rentan terhadap Covid 19. Di sisi input pertanian, pupuk yang 40% dan pestisida yang 70% bahan aktifnya bergantung pada import, stok yang ada hanya cukup untuk empat hingga enam bulan kedepan. Di sisi petani sendiri terjadi kebingungan terutama akses informasi yang tidak menentu yang membuat bingung.

Petani di desa-desa juga akan menghadapi tantangan mengakses pasar untuk menjual produk mereka atau membeli bahan baku pertanian seperti pupuk, benih dan pestisida karena keterbatasan suplai dan transportasi. Rantai pasokan makanan adalah jaringan yang kompleks yang melibatkan produsen, konsumen, input pertanian dan perikanan, pemrosesan dan penyimpanan, transportasi dan pemasaran.

Ketika virus menyebar dan kasus meningkat, dan langkah-langkah diperketat untuk menahan penyebaran virus, ada banyak cara sistem pasokan pangan di semua tingkatan akan mengalamai screening untuk memastikan kebersihannya. Secara umum saat ini permasalahan kekurangan pangan masih minim, karena persediaan pangan masih memadai dan masih tersedia di pasar. Secara global stok pangan dunia ada pada tingkat yang cukup hingga akhir tahun 2020.

Pembatasan transportasi dan langkah-langkah karantina cenderung menghambat akses petani dan nelayan ke pasar. Sektor perikanan implikasinya cukup kompleks karena terkait logistik dan transportasi karena ikan segar dan produk akuatik, yang sangat mudah rusak, harus dijual, diproses atau disimpan dalam waktu yang relatif terbatas. Berkurangnya permintaan di restoran dan hotel dapat menghasilkan perubahan pasar yang signifikan dapat menghasilkan efek domino di seluruh rantai perdagangan yang pada akhirnya akan mempengaruhi harga jual.

Apa yang harus kita lakukan ?

Sebagai bagian dari tanggapan COVID-19, prioritas FAO adalah: (1) mendukung negara-negara berkembang untuk mengantisipasi dan mengurangi dampak pandemi pada ketahanan pangan dan mata pencaharian penduduk mereka; (2) berkontribusi pada diskusi tentang mitigasi dampak COVID-19 pada perdagangan dan pasar pangan global; (3) dan mendukung negara dan lembaga penelitian dalam investigasi untuk mengidentifikasi hewan inang potensial dari virus dan mengurangi dampak negatif bagi manusia.

FAO memberikan saran, pedoman dan praktik terbaik untuk memastikan keberlanjutan dan perlindungan rantai pasokan pangan. Melindungi ketahanan pangan dan gizi. Memastikan kesiapan untuk mendeteksi COVID-19 dengan cepat pada pangan. Untuk membantu petani kita sendiri perlu adanya data yang jelas mengenai kepastian pasar di tengah Covid-19 ini. Kita berkewajiban men support market-market kunci bagi petani di berbagai daerah untuk mengurangi dampak negatif pada petani. Membantu petani memberikan informasi yang benar.
Dilihat dari sisi lainnya, pandemin Covid-19 ini menjadi peluang bagi para petani Indonesia dan menjadikan produk pertanian lokal menjadi tuan rumah di negaranya sendiri. Masyarakat saat ini memang lebih menggemari produk lokal karena lebih segar dan terjamin keamanannya. Sehingga kebutuhan masyarakat terhadap produk pertanian pun meningkat. Apalagi para ahli gizi juga menyarankan masyarakat untuk tetap mengonsumsi makanan sehat dan bergizi untuk meningkatkan kekebalan tubuh.
Kreativitas dan innovasi diperlukan dalam sistem rantai pasok dengan menjual produk pertanian langsung dari petani ke konsumen dengan menjamin keamanan dan kebersihan produk sebelum dikirim. Saat ini sudah tersedia marketplace pertanian, para petani dapat menjual hasil taninya secara online juga memantau harga, setidaknya ada 5 aplikasi yang wajib dimiliki petani untuk menjual produknya :
(1) Agromaret, adalah komunitas dan marketplace yang berfokus pada sektor pertanian dan telah beroperasi sejak tahun 2009. Agromaret bertujuan untuk mengurangi dominasi pasar bagi sekelompok orang, menciptakan peluang pasar yang seluas-luasnya bagi para petani, menjadi sentra informasi di bidang pertanian.
(2). TaniHub, layanan ini berangkat dari keinginan pendiri untuk membantu petani menjangkau konsumen secara langsung tanpa campur tangan tengkulak. E-commerce ini sangat menguntungkan bagi para petani karena mereka bisa mendapat keuntungan sebesar 20% dari harga yang dijual ke tengkulak. Selain itu, jangkauan pemasaran pun akan semakin luas.
(3). Petani, bila TaniHub berkonsentrasi pada pemasarannya, aplikasi Petani berfokus pada layanan informasi untuk para petani. Aplikasi Petani dikembangkan oleh 8villages yang khusus mengembangkan aplikasi bernama RegoPantes. Tujuan aplikasi ini untuk membantu banyak petani di Jawa Tengah agar produk/hasil pertaniannya dipasarkan di Jakarta dengan harga yang pantas dan para petani sudah lebih dulu mendapat pembayarannya. Setelah itu, semua produk yang dipesan oleh konsumen akan di-packing dan diberangkatkan ke Jakarta.
(4). Pantau Harga, aplikasi yang dibesut oleh Code4Nation ini bertujuan untuk membantu konsumen memantau harga komoditas pangan di lingkungan sekitar mereka, dan membeli produk tersebut dengan kualitas yang baik serta harga yang kompetitif. Ada konsumen tentu ada penjual. Pada aplikasi ini, petani, nelayan, dan peternak juga bisa menjual produk mereka dengan harga yang lebih tinggi dibanding ketika mereka menjualnya kepada tengkulak.
(5). LimaKilo, aplikasi LimaKilo hadir untuk memotong pola pendistribusian produk pertanian, di mana pembeli langsung dipertemukan dengan penjual. Dengan begini, penghasilan petani diharapkan bisa naik hingga 15% dan juga harga beli di konsumen bisa turun 15%. Sesuai dengan namanya, aplikasi ini ditujukan bagi pembeli kebutuhan pangan dalam jumlah paling sedikit 5 kilogram. Bila lebih dari 5 kilogram, pelanggan bisa menggunakan layanan beli grosir pada aplikasi ini.
Langkah Strategis Kementerian Pertanian dalam rangka Pencegahan dan Perlindungan dari Dampak Penyebaran Virus Covid-19 memprioritaskan kebutuhan bahan pokok sebagai pasokan masyarakat serta melindungi ekonomi di sektor pertanian agar tidak melemah selama proses pengendalian penyebaran Covid 19 di Indonesia. Kebijakan Menteri Pertanian (1). Melakukan refocusing kegiatan dang anggaran sebagai antisipasi dampak pandemi virus Covid-19, (2). Mempercepat program Padat Karya. (3). Menjaga ketersediaan bahan pangan pokok.
“Sektor pertanian tidak boleh goyah akibat Covid-19. Jangan tidak optimis dan membuat negara ragu. Kita harus jaga bangsa yang besar ini tetap kuat dan tidak terpuruk. Badai pasti berlalu, tidak ada alasan pesimis, kita bersatu hadapi Covid-19.,” Menteri Pertanian, Syahrul Yasin Limpo (SYL).

Dadang Gusyana, S.Si, MP
Member America Society of Agronomy (ASA)
Penggiat Petani Mellienial 2019

(Visited 153 times, 1 visits today)