https://api.whatsapp.com/send?phone=6281361509763
Petrokimia Gresik
4 February, 2021
Bagikan Berita

Jakarta, Mediaperkebunan.id
Anggaran Ditjen Perkebunan tahun 2021 yang semula sebesar Rp1.611.640.697.000 setelah drefocusing dan realokasi sebagai penghematan dalam rangka mengamankan pelaksanaan pengadaan vaksin dan program vaksinasi nasional, penanganan pandemi Covid-19, dukungan anggaran perlindungan sosial kepada masyarakat menjadi Rp1.000.100.000.000. Momon Rusmono, Sekjen Kementan menyampaikan hal ini pada Rapat Dengar Pendapat yang dipimpin oleh Sudin, Ketua Komisi.

Kegiatan utama Ditjenbun ada 4 yaitu dukungan logistik benih, pembangunan sumber benih dan nursery untuk menghasilkan benih 70,86 juta batang; pengembangan kawasan perkebunan unggul nasional berbasis korporasi petani untuk kopi, kakao, kelapa, tebu dan lain-lain 35,89 ribu ha; peningkatan penanganan OPT, gangguan usaha perkebunan dan dampak perubahan iklim 1.725 ha; pasca panen, hilirisasi dan pemasaran 1.053 unit.

Dalam kesimpulan rapat, Komisi IV DPR minta supaya Ditjen Perkebunan menyusun skala prioritas pengembangan komoditas perkebunan sesuai dengan kebutuhan masyarakat yang memberikan kontribusi besar terhadap produksi nasional, penyediaan benih berkualitas, sarana produksi dan sarana prasarana penanganan pasca panen dan pengolahan.
DPR juga minta pada pemerintah dalam rangka meningkatkan pembangunan subsektor perkebunan dan mendorong pertumbuhan ekspor komoditi perkebunan untuk memanfaatkan skema pembiayaan/kredit yang berbunga rendah dibawah 6%.

Dirjen Perkebunan Kasdi Subagyono menyatakan meskipun anggaran Ditjenbun dipotong tetapi ekspor perkebunan diharapkan tidak terganggu karena pembiayaan bukan dari APBN saja tetapi menggunakan skema KUR. Dengan KUR ini maka investasi didekatkan ke beberapa komoditas. Terhadap usulan DPR supaya bisa KUR bisa lebih rendah lagi seperti BLU Kementerian Kelautan dan Perikanan yang memberi bunga 3%, Kasdi akan berkoordinasi dengan Dirjen Sarana dan Prasarana.

Komoditas yang ekspornya paling besar adalah kelapa sawit. Ditjenbun tidak mengalokasikan anggaran untuk sawit karena ada dana BPDPKS untuk membiayai kegiatan. Kelapa dijadikan komoditas unggulan untuk ekspor dan tahun ini alokasi anggarannya dinaikkan.

Baca Juga  Salatiga Siap Membangkitkan Kembali Emas Hijau

Fadjry Djufry, Kepala Badan Litbang Pertanian menyatakan salah satu komoditas yang menjadi prioritas Balitbang adalah tebu untuk mencapai swasembada gula. Konsentrasi pada merakit varietas unggul baru yang produktivitas dan rendemen tinggi.

(Visited 192 times, 1 visits today)