2016, 17 Oktober
Share berita:

Komoditas jambu mete memiliki nilai yang cukup strategis untuk pengembangan pertanian di wilayah berlahan sub optimal khususnya lahan kering beriklim kering (seperti NTT, NTB, dan Sultra). Sejauh ini cara budidaya jambu mete belum dilakukan sebagaimana yang diharapkan, menyebabkan produktivitas rata-rata nasional masih sangat rendah yakni pada kisaran 250-350 kg gelondong/ha/tahun. M.Syakir, Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Kementerian Pertanian menyatakan hal ini.

Demikian juga perkembangan industri jambu mete nasional masih lambat, sehingga nilai tambah yang ada tidak terambil dengan mayoritas ekspor yang masih dalam bentuk bahan mentah berupa gelondong mete. Kondisi agribisnis jambu mete yang lemah ini musti segera diakhiri dengan pendekatan yang lebih koordinatif dan berbagi peran diantara stakeholder jambu mete nasional.

Badan Litbang Pertanian terus meningkatkan dan memanfaatkan inovasi teknologi guna merevitalisasi peran tanaman perkebunan untuk meningkatkan devisa negara dan kesejahteraan masyarakat Indonesia. Revitalisasi peran agribisnis tanaman jambu mete secara komprehensif mendesak dilakukan seiring dengan program pengentasan kemiskinan dan pemberdayaan masyarakat di wilayah lahan kering beriklim kering yang melibatkan tidak kurang dari 760 ribu keluarga petani (BPS, 2014).

Melalui aksi konkrit revitalisasi agribisnis jambu mete dari semua pihak terkait diharapkan dapat memecahkan berbagai kendala riil di lapangan seperti akses pendampingan inovasi teknologi, penguatan kelembagaan permodalan, sarana produksi, pemasaran, dan pengembangan nilai tambah.

Hingga saat ini aktivitas agribinis jambu mete di seluruh sentra produksi belum berjalan maksimal dan belum mampu memberikan tambahan pendapatan yang memadai bagi para petani jambu mete. Hal ini tercermin dari rendahnya nilai ekonomi yang diterima oleh para petani jambu mete.

Sementara negara lain seperti India dan Vietnam sangat agresif mengelola peluang ekonomi
komoditas jambu mete untuk memberikan nilai tambah bagi negaranya. Sebagai contoh kedua negara tersebut sangat progresif melakukan impor dan reekspor jambu mete dari berbagai negara penghasil jambu mete lainnya. S