24 June, 2020

Jakarta, mediaperkebunan.id – Asosiasi Gula Rafinasi Indonesia (AGRI) mendukung penuh program Pemerintah dalam mewujudkan swasembada gula.

Hal tersebut diungkapkan oleh Benardi Dharmawan, Ketua Umum AGRI dalam webinar yang diselenggarakan oleh Media Perkebunan dalam tema “Pergulaan di Era New Normal: Bisakah Swasembada Dicapai?’”

Memang, Benardi mengakui, bahwa proses pengerjaan gula kristal rafinasi (GKR) berbeda dengan gula krstal putih (GKP).

“Kami memproses gula kristal mentah bahannya gula bentuk kristasl. Pabrik gula (PG) GKR melakukan proses dari bahan setengah jadi. Kita melakukan pemurnian, kemudian keluarlah GKR. Industri rafinasi bukan pembuat gula, sebab bahan bakunya gula. Jadi kita pemurnian gula. Hal itu berbeda dengan PG GKP. Dimana bahan bakunya tebu lalu digiling menjadi nira dan pembersihan dan menjadi gula,” papar Benardi.

Meski begitu, Benardi komit, pelaku GKR yang tergabung dalam AGRI ingin berkontrinbusi atau menginvestasi perkebunan dan melakukan integrasi. “Kami siap untuk mendukung dan membangun PG yang berbahan baku tebu,” tegas Benardi.

Namun, kata Benardi , anggota AGRI terbentur oleh masalah mendapatkan lahan untuk dijadikan perkebunan tebu dan PG GKP. Sehingga kalaupun mau membangun pabrik baru berbasis tebu rakyat maka pelaku usaha harus melakukan survei. Memang beberapa pelaku usaha sudah ada yang mendapatkannya di daerah NTB dan Sultra.

“Sebab kalau ingin membangun baru didaerah Jawa sudah susah. Maka mau tidak mau kita harus mencari lahan diluar Jawa. Namun pada dasarnya kita mendukung terwujudnya swasembada gula,” pungkas Benardi.

(Visited 168 times, 1 visits today)